Menu

Sederet Biang Kerok Fenomena Speech Delay, Ikuti Saran Pakar Ini Moms!

Riana Agustian
23 November 2021 12:20 WIB
Sederet Biang Kerok Fenomena Speech Delay, Ikuti Saran Pakar Ini Moms!

Ilustrasi anak mengalami speech delay (Getty Images/Edited By HerStory)

HerStory, Bogor —

Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab terhambatnya tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan yang sering dikeluhkan orang tua yaitu keterlambatan bicara atau dikenal dengan istilah speech delay. Speech delay sendiri adalah kemampuan bicara anak yang tidak berkembang sesuai usia.

Dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), speech delay terjadi pada 5-8 persen anak usia prasekolah. Speech delay ini dapat disebabkan oleh gangguan pendengaran, gangguan oragan mulut, hingga gangguan pada otak.

Dan ternyata Moms, speech delay banyak dialami anak-anak di masa modern, salah satunya, karena pemberian gawai (gadget) yang terlalu dini oleh orang tua. Menurut Dokter Anak & Rehab Medis, dr. Luh Karunia Wahyuni, Sp.KFR-K., kondisi tersebut menyebabkan interaksi yang terjadi hanya satu arah.

Lantas, apa yang harus dilakukan orang tua agar anaknya tak mengalami speech delay?

“Kalau kita kaitkan dengan masa pandemi ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua. Yang pertama adalah stop gadget. Saya agak khawatir karena sampai di daerah-daerah yang jauh di pelosok, semua anak-anak itu megang gadget. Jadi sebenarnya, anak di bawah 24 bulan itu memang tak diperkenalkan gadget sama sekali. Dan itu rekomendasi dari WHO, begitu dari American Pediatric Association memang tidak merekomendasikan gadget,” tutur dr. Luh, saat webinar Baby Happy Diapers x Sekar Indonesia dengan tema ‘Kupas Tuntas Tahapan Perkembangan Bicara pada Anak & Solusi Tepat Atasi Speech Delay’, sebagaimana dipantau HerStory, Senin (22/11/2021).

Kemudian yang kedua, lanjut dr. Luh, gunakan satu bahasa. Jadi kalau anak memang ditetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu, gunakan bahasa Indonesia. Kemudian yang ketiga, anak harus aktif diajak main di luar rumah.

“Karena banyak anak-anak sekarang yang hanya duduk saja. Gak hanya nonton TV dan maen gadget, tapi main yang lain juga duduk. Sehingga, anak-anak yang berusia 2 tahun atau 3 tahun yang seharusnya melakukan eksplorasi secara aktif di luar rumah lebih banyak duduk. Sedangkan kita tahu bahwa duduk itu adalah perkembangan motorik anak usia 7 bulan. Jadi artinya bukan simulasi yang kita lakukan, tetapi menurunkan level tingkat kecerdasannya motoriknya sesuai dengan 7 bulan,” papar dr. Luh.