Menu

Jejak Sukses Novita Dwi Saraswati: Besarkan Viu Outfitters dan Dukung Konsumsi Mode yang Ramah Lingkungan

03 Desember 2021 13:25 WIB
Jejak Sukses Novita Dwi Saraswati: Besarkan Viu Outfitters dan Dukung Konsumsi Mode yang Ramah Lingkungan

Novita Dwi Saraswati, Owner Viu Outfitters (Instagram/@viu.outfitters)

Fyi Beauty, gaya hidup minimalis bagi masyarakat Jepang sendiri kita tahu sangat unik dan benar-benar berbeda. Biasanya para minimalis Jepang akan terlihat dari kondisi rumahnya dan pakaiannya. Sebagian besar orang minimalis Jepang hanya akan memiliki beberapa setelan baju saja dan perlengkapan di rumahnya juga hanya terdiri dari beberapa barang yang penting saja. Semuanya diatur serba minimalis dari mulai pakaian hingga benda-benda di sekitar.

“Baju yang aku buat ini menurutku bukan sekedar baju. Karena aku ingin menggiring beberapa konsep minimalis. Nantinya, aku pun bakal fokus bikin outer atau luaran aja. Kenapa? Karena aku ingin mengelola konsep minimalisnya orang Jepang, dan aku ingin alihkan konsep ke orang-orang Indonesia. Karena kan sepengalaman pribadi aku sendiri, temen-temen di Jerman itu bilang kok baju aku banyak banget sih, karena orang Jerman itu bajunya sedikit-sedikit. Aku bilang, iya ya kenapa aku punya banyak baju. Itulah kenapa aku ingin menerapkan konsep minimalis orang Jepang ini produk Viu. Jadinya aku cuma akan memproduksi outer aja, biar gak over production juga kan. Alasan kenapa outer yang aku pilih, karena menurutku dengan outer itu kita bisa melihat berbagai macam look. Outer itu bisa dipaduin sama apa deh, cocok di segala kondisi juga,” beber Novita.

Novita pun melanjutkan, selain mengusung konsep minimalis, produk Viu yang digadangnya ini pun terbilang produk yang sustainable dan eco-design. Karena ia melihat, bahkan melakukan riset juga bahwa dampak perkembangan industri fashion serta perubahan perilaku masyarakat yang kian konsumtif terhadap produk fashion ini ternyata membawa dampak buruk bagi lingkungan. 

Karenanya, lewat bisnisnya ini, Novita pun ingin memulai pergeseran fashion ke arah yang lebih ramah lingkungan. Meski dia bilang upaya yang dilakukannya terbilang skala kecil, tapi bayangkan jika puluhan juta konsumen melakukan upaya yang sama untuk mengubah perilaku konsumsi produk fashion, tentu gerakan ini dapat menjadi aksi yang revolusioner.

“Jadi kenapa dibilang eco-design, karena dari bahan bajunya itu jelas berkualitas, gak mudah rusak. Bisa dipake jangka panjang. Jadi kita gak perlu lah beli baju banyak-banyak. Bahkan saya juga melakukan riset kan kenapa saya mengambil konsep minimalis ini ya karena saya peduli dengan lingkungan juga, selain memilih outer agar tak over-production dan bikin sampah baju menumpuk, konsep minimalisnya diambil, juga ramah lingkungan, sama packaging-nya juga reusable. Dan mungkin ke depannya, aku juga akan membuat campaign tersendiri agar orang-orang tuh realize bahwa betapa banyaknya sampah baju-baju bekas di dunia ini,” jelas Novita.

Halaman: