Ilustrasi pil untuk aborsi. (Freepik/parameprizma)
Obat ini mengandung hormon progestin Levonorgestrel yang dapat mencegah pelepasan sel telur dari ovarium. Jadi, postinor sebenarnya bukan obat untuk aborsi.
Menurut Healthline, umumnya obat kontrasepsi darurat hanya menimbulkan efek samping ringan, seperti mual, muntah, sakit kepala, kelelahan, kelemahan, hingga pusing. Kontrasepsi darurat juga dapat memengaruhi siklus bulanan. Menstruasi bisa datang satu minggu lebih awal atau satu minggu lebih lambat.
Sementara cytotec merupakan obat untuk mencegah tukak lambung akibat obat nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), seperti aspirin, ibuprofen, atau naproxen. Bahan aktif cytotec adalah misoprostol.
Namun, cytotec memang umum digunakan sebagai obat aborsi jika dikonsumsi selama kehamilan trimester pertama. Menurut dokter umum Aloisia Permata Sari dalam laman Alodokter, aborsi yang dilakukan tanpa indikasi medis mempunyai beragam risiko, seperti pendarahan kerusakan rahim, infeksi, radang panggul, hingga kemandulan.
Sedangkan efek samping dari cytotec sendiri adalah mual, muntah, diare, dispeosia, perut kembung, badan lemah dan tak bertenaga, sakit kepala ringan, pusing, sakit perut, pendarahan vagina, serta ruam kemerahan.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel:
Lihat Sumber Artikel di Suara.com
Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.