Menu

Konon Katanya, Urutan Kelahiran Mempengaruhi Keharmonisan Rumah Tangga Lho! Ternyata Pernikahan Sesama Anak Bungsu Akan...

17 Januari 2022 13:45 WIB
Konon Katanya, Urutan Kelahiran Mempengaruhi Keharmonisan Rumah Tangga Lho! Ternyata Pernikahan Sesama Anak Bungsu Akan...

Ilustrasi wanita yang akan menikah. (Freepik/freepic.diller)

HerStory, Jakarta —

Menurut sebagian orang, pernikahan antara anak bungsu dengan anak bungsu tak akan berakhir baik karena terhitung tak bagus. Pasalnya, kedua dari mereka seringkali dimanja oleh orang tuanya dan memiliki ego yang sangat tinggi. Apabila terjadi, pernikahan tersebut rupanya bisa mendapatkan masalah yang besar di rumah tangganya kelak.

Dilansir dari Yoursay, Suara. Berikut adalah 5 hal yang akan terjadi ketika kamu mengalami pernikahan sesama anak bungsu:

Saya dan suami adalah pasangan yang sama-sama terlahir menjadi anak bungsu. Setelah sekian tahun berpacaran, kami memutuskan untuk menikah. Dari awal berhubungan, boro-boro kepikiran tentang 'bungsu' ini. Dan untungnya, saya dibesarkan oleh sepasang orangtua yang tak itung-itungan dengan tanggal. Bahkan tanggal dan bulan menikah, kami sendiri yang memilihnya. Setelah menikah, baru mendengar dari beberapa orang bahwa katanya, pernikahan anak bungsu dengan anak bungsu itu kurang baik. 

Padahal nyatanya tak begitu, kok. Memang, seringkali ego kami sama-sama tinggi. Sebelum memiliki anak, bisa sering marahan karena hal-hal kecil. Namun, setelah punya anak, hampir nggak pernah marahan, terutama di depan anak. Sebisa mungkin, kami berdiskusi ketika si kecil tidur, ataupun mencari waktu luang untuk bisa ngobrol berdua dan bahas permasalahan yang dihadapi. 

Nah, berikut ini 5 Hal yang dirasakan ketika menikah dengan sesama anak bungsu

1. Berasa hidup dengan teman sendiri

Ini adalah hal yang pertama kali saya pikirkan jika mengingat rumah tangga saya. Saya dan suami yang memang sama-sama anak bungsu. Hubungan kami yang berawal dari sekedar berteman dan mengagumi, terbawa sampai kami menjalani kehidupan rumah tangga. Saya selalu mengaguminya sebagai lelaki yang baik hati dan cerdas.

Hubungan asmara kami selalu terasa seperti hubungan pertemanan, menjalani segala sesuatu bersama tanpa ada tekanan. Bedanya, sewaktu pacaran dulu, kami bucin sekali. Mungkin, saya yang bucin. Sekarang, ingin mengucapkan sesuatu yang romantis saja sering malu dan memilih mengetik di WhatsApp ketimbang berbicara langsung. Tapi, takut sekali kehilangan. Setiap suamiku pergi kemanapun, aku selalu menjadi wanita tercerewet agar dia hati-hati.

Kami sama sekali bukan pasangan yang kaku, seakan aku adalah suami, kamu adalah istri. Aku harus begini, kamu harus begini, yang seringkali menumbuhkan perasaan kurang terbuka. Dalam rumah tangga, kami seakan setara. Aku mau ngomong apapun, bebas. Namun, aku tetap menghomatinya sebagai seorang suami dan menghargainya yang sudah memberi nafkah untuk aku dan anak-anak.

2. Menjadi pasangan yang saling pengertian

Karena sama-sama anak bungsu dan ada sedikit warna pemalas dalam diri, kami tak pernah mempermasalahkan itu. Misalnya, kadang aku merasa malas untuk melakukan sesuatu yang remeh. Seperti mencuci piring. Banyak wanita rajin yang sekali makan piringnya langsung di cuci. Tapi, aku termasuk wanita malas yang menumpuk cucian piring, dan mengerjakannya nanti. Suamiku tak pernah mempermasalahkan itu. Karena sama-sama anak bungsu, dia mengerti betul sebelum kami berumah tangga, biasanya apa-apa dikerjakan orangtua. 

Bahkan terkadang begini, aku selalu ingin ketika suamiku pulang kerja rumah selalu terlihat rapih dan enak di pandang mata. Namun, karena kami memiliki anak kecil, susah sekali membuat rumah selalu rapih. Tapi, suamiku tak pernah mempermasalahkan itu.

Kalau sedang mood ataupun tak terlalu capek, dia seringkali membantuku mengerjakan tugas rumah tangga. Atau menjaga si kecil, sehingga aku bisa membereskan segalanya. Tapi, kalau sama-sama sedang capek, nggak masalah juga dikerjakan esok hari. Dia adalah orang tersimple dalam urusan pekerjaan rumah tangga. 

Begitu juga aku menyikapinya yang malas sekali memandikan motor miliknya. Padahal motor satu-satunya, tapi jarang sekali dirawat. Kalau orangtua sedang berkunjung ke rumah, motor seringkali menjadi perhatian. Saking buluknya nggak pernah dicuci. Tapi, aku juga tak pernah mempermasalahkan. Kalau mau, aku yang cucikan. Kalau sama-sama tak mau, ya sudah.

3. Menjadi pasangan yang kompak

Sama-sama terlahir sebagai anak bungsu juga membuat saya dan suami selalu kompak. Entah dalam pilihan apapun dan dalam hal apapun, rasanya selalu klop.

Nyatanya, dalam hubungan rumah tangga akan selalu ada banyak pilihan. Misalnya, memilih tinggal bersama orangtua atau mengontrak rumah, memasak menu harian atau beli lauk matang, juga dalam pola asuh anak, saya dan suami selalu kompak. Jikapun ada perbedaan, kami mengambil jalan tengah dan menjalani setiap keputusan yang diambil bersama tersebut dengan penuh tanggung jawab. 

4. Memiliki rumah tangga yang menyenangkan

Lihat Sumber Artikel di Suara.com

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.