Studi terbaru mengonfirmasi bahwa sebagian besar anak-anak tak alami gejala parah COVID-19. Dalam sebuah studi di Eropa baru-baru ini, kurang dari 1 persen anak-anak mengalami gejala COVID-19 yang parah. Penelitian ini diterbitkan pada 25 Juni oleh Lancet Child and Adolescent Health, tampaknya anak-anak yang mengembangkan COVID-19 berisiko lebih rendah untuk memerlukan perawatan intensif.

Melansir laman Moms, studi besar menganalisis data dari hampir 600 pasien COVID-19 anak dari 21 negara Eropa yang berbeda. Tujuan utama studi ini adalah untuk menangkap data kunci pada anak-anak dan remaja dengan sindrom pernapasan akut COVID-19. Para peneliti mengeksplorasi faktor-faktor yang terkait dengan kebutuhan untuk masuk unit perawatan intensif dan inisiasi pengobatan untuk COVID-19.

Penelitian ini melibatkan lebih banyak anak laki-laki daripada wanita, selain itu juga skala anak-anak dalam usia dari tiga hari hingga 18 tahun. Hasilnya setengah dari anak-anak yang terinfeksi COVID-19 dirawat di rumah sakit, hanya 8 persen yang dirawat di unit perawatan intensif.

Baca Juga: Mengenal Sputnik V, Vaksin Corona Pertama di Dunia Asal Rusia

Baca Juga: Berada di Bawah Rata-rata Dunia, Ini Strategi Satgas Penanganan COVID-19 Tekan Angka Kematian di 22 Provinsi Indonesia

Para peneliti juga menemukan bahwa hanya 4 pasien meninggal karena penyakit ini. Tentunya ini adalah persentase tingkat kematian yang lebih rendah dari 0,69 persen.

Peneliti menyatakan bahwa COVID-19 adalah penyakit ringan pada anak-anak termasuk bayi. 16% anak-anak dalam penelitian ini tidak pernah menunjukkan gejala COVID-19 dan banyak dari mereka diuji hanya karena mereka memiliki kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.

Bayi yang belum berusia satu bulan lebih mungkin membutuhkan perawatan intensif daripada anak-anak yang lebih tua. Anak-anak yang meninggal diketahui memiliki penyakit bawaan yang sudah ada sebelumnya.

Para peneliti juga menyebutkan kemungkinan "koinfeksi" dengan virus lain seperti influenza dan jenis virus corona tambahan. Dengan koinfeksi tampaknya meningkatkan keparahan gejala pada anak. Ada indikasi yang mungkin bahwa mendapatkan infeksi tambahan dapat memiliki implikasi parah untuk musim dingin 2020 hingga 2021.

Baca Juga: Waspada! Penelitian Klaim Vape Meningkatkan Risiko Anak Muda Terinfeksi Virus Corona

Baca Juga: Wah! Lebih Rendah dari Rata-rata Dunia, 22 Provinsi Indonesia Berhasil Menekan Angka Kematian Akibat Corona

Data keseluruhan menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja kurang terpengaruh oleh COVID-19 dibandingkan orang dewasa. Masih banyak yang harus dipelajari tentang virus ini dengan penelitian lanjutan.