Ilustrasi pembengkakan gusi. (Pinterest/Freepik)
Studi tersebut menyimpulkan bahwa pasien dengan penyakit gusi paling mungkin mengalami peningkatan tekanan darah ketika ada "peradangan gingiva aktif", yakni pendarahan pada gusi.
Adapun, gejala lain dari penyakit gusi meliputi gusi bengkak, bau mulut, sakit saat mengunyah, serta gusi mengecil.
Studi tersebut juga menemukan adanya peradangan gusi aktif (diidentifikasi dengan gusi berdarah) dikaitkan dengan tekanan darah sistolik yang lebih tinggi. Peserta penelitian dengan periodontitis menunjukkan peningkatan glukosa, LDL (kolesterol jahat), hsCRP dan kadar sel darah putih, dan kadar HDL (kolesterol baik) yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Dan, hampir 50 persen peserta dengan penyakit gusi dan 42 persen dari kelompok kontrol memiliki nilai tekanan darah untuk diagnosis hipertensi, yang didefinisikan sebagai 130/80 mmHg.
“Tekanan darah yang meningkat biasanya tak menunjukkan gejala, dan banyak orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka berada pada peningkatan risiko komplikasi kardiovaskular,” tutur Profesor D'Aiuto.
“Kami bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara periodontitis parah dan tekanan darah tinggi pada orang dewasa yang sehat tanpa diagnosis hipertensi yang dikonfirmasi,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Profesor D'Aiuto menyarankan bahwa untuk mengurangi risiko penyakit gusi bahkan lebih penting daripada hanya memiliki kesehatan mulut yang menyeluruh. Hal ini dapat dicapai dengan mengikuti rutinitas menyikat gigi selama dua menit penuh dua kali sehari, ditambah pembersihan sela-sela gigi dengan benang atau sikat interdental.
“Juga disarankan untuk mengunjungi dokter gigi dan ahli kesehatan gigi Anda secara teratur untuk pembersihan dan pemeriksaan,” pungkasnya.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.