Virus corona merupakan salah satu jenis virus baru yang menginfeksi manusia, sehingga masih banyak ahli yang belum mengenalinya lebih dalam. Namun, secara umum infeksi virus corona diketahui lebih berisiko menjangkit para lansia serta orang-orang yang memiliki penyaki bawaan, seperti penyakit diabetes.

Namun, ada sebuah penelitian yang mengungkapkan bahwa orang yang tinggi bisa lebih berisiko terinfeksi virus corona mengingat kini COVID-19 bisa menular lewat udara atau airborne. Hasil penelitian ini dianalisis oleh tim ilmuwan data di Inggris, Norwegia dan AS, yang dipimpin oleh para ahli di Universitas Oxford.

Penelitian itu dilakukan berdasarkan data dari 2.000 orang di Inggris dan AS. Ilmuwan mengamati berbagai faktor pribadi dan terkait pekerjaan yang dapat memengaruhi risiko infeksi SARS-Cov-2, virus yang menyebabkan Covid-19. Responden ditanya tentang status pekerjaan, pendapatan, bagaimana mereka bepergian ke tempat kerja, apakah mereka tinggal bersama orang lain dan apakah mereka banyak bersosialisasi di antara faktor-faktor lain.

Baca Juga: Soal Obat Herbal Corona Hadi Pranoto, Kemenristek: Dia Bukan Anggota Penelitian Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19

Baca Juga: Wah, Kemenkes Jelaskan 4 Tahap Uji Klinis Vaksin Virus Corona! Apa Saja Ya?

Hasil peneliian ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki tinggi di atas 6 kaki atau sekitar 182 cm memiliki risiko dua kali lebih tinggi terinfeksi virus corona melalui udara. Di sisi lain, para ilmuwan mengatakan orang yang bertubuh tinggi tak begitu berisiko akan terinfeksi virus yang menyebar melalui droplet saat bersin atau batuk.

Temuan ini mendukung teori bahwa partikel-partikel virus corona kecil yang dipancarkan melalui menghembuskan napas dan berbicara dapat berlama-lama di udara selama berjam-jam. Penularan melalui udara berarti virus dapat menyebar di aerosol tetesan sangat kecil sehingga virus dapat melayang di udara setelah dihembuskan.