Seorang ibu tengah mengajarkan anaknya mengaji. (Pinterest/Freepik)
Setelah berpuasa 30 hari lamanya, kegiatan Ramadan yakni takbiran adalah gong yang ditunggu-tunggu. Takbiran lazimnya diwarnai dengan berkumpul di masjid dan bersama-sama mengucap kalimat takbir yang terdengar ke seluruh kampung lewat pengeras suara. Sementara beberapa orang mengisinya dengan berkeliling kampung membawa beduk.
Di berbagai daerah di Indonesia, malam takbiran dihiasi dengan tradisi yang hanya ada satu tahun sekali. Contohnya di Pontianak, dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri para warga akan menyulut meriam di pinggir Sungai Kapuas. Sedangkan warga Bengkulu menyebut malam takbiran dengan nama ronjok sayak. Agenda tersebut diisi dengan menyalakan api melalui tumpukan serabut kelapa setinggi satu meter atau dikenal dengan tradisi bakar gunung api
Kegiatan Ramadan yang terakhir adalah mudik. Mudik merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang merantau di kota dan pulang ke kampung halamannya saat Hari Raya tiba. Meski harus berpacu dengan kondisi lalu lintas yang padat, menempuh waktu belasan jam, hingga harga tiket transportasi yang melambung tinggi, para perantau ini rela melakukan segalanya demi bisa berkumpul bersama keluarga di hari nan fitri nanti.
Tradisi mudik di Indonesia mulai terjadi pada sekitar tahun 1970-1980-an, saat beberapa kota di Indonesia tumbuh menjadi kota besar. Kota-kota besar ini umumnya dibangun oleh para pendatang yang bermigrasi dari desa ke kota. Ketika Hari Raya Idul Fitri, mereka kembali ke kampung halaman sebagai ajang untuk menunjukkan kesuksesan.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel:
Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan Viva. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.