Menu

Semakin Tua, Kenapa Sih Wanita Semakin Ogah Hubungan Seks? Ini Penyebabnya!

30 Juni 2022 10:45 WIB
Semakin Tua, Kenapa Sih Wanita Semakin Ogah Hubungan Seks? Ini Penyebabnya!

Foto Nenek yang memegang kamera. (Unsplash/Tiago Muraro)

HerStory, Jakarta —

Ketika bertambah umur, perubahan gairah seksual adalah hal yang sangat normal. Apalagi, ketika gairah perlahan menghilang ketika sudah memasuki usia lanjut.

Beberapa orang percaya pada stereotip bahwa orang yang lebih tua tak berhubungan seks. Namun pada kenyataannya, banyak orang tetap aktif secara seksual sepanjang hidup mereka.

Keintiman dan koneksi masih penting di kemudian hari. Jika seks adalah pusat gaya hidup dan kebahagiaan kamu pada usia 30, itu mungkin masih penting pada usia 60.

Tapi banyak wanita menghindari berhubungan seks saat semakin tua. Lantas apa sebenarnya sebabnya. Sebuah penelitian yang dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan Masyarakat Menopause Amerika Utara (NAMS), yang ditulis oleh Dr. Amanda Clark, dari Kaiser Permanente Center for Health Research di Portland, OR, berusaha mengunggkapnya.

Dilansir dari Medical News Today, penelitian ini meneliti prevalensi apa yang disebut sindrom genitourinaria menopause (GSM) di antara wanita pascamenopause, dan bagaimana hal itu memengaruhi kemampuan wanita untuk menikmati seks.

GSM adalah nama kolektif untuk berbagai masalah vagina dan saluran kemih yang mempengaruhi wanita yang sedang mengalami menopause atau yang pascamenopause.

Gejala GSM yang umum termasuk masalah kontrol kandung kemih dan nyeri saat berhubungan seks, atau dispareunia, yang cenderung terjadi karena dinding vagina menjadi lebih tipis seiring bertambahnya usia.

Dari Maret hingga Oktober 2015, dr. Clark dan rekan-rekannya mensurvei lebih dari 1.500 wanita berusia 55 tahun ke atas menggunakan email.

Para wanita didominasi kulit putih, dan hampir setengah (48 persen) dari mereka melaporkan tak melakukan aktivitas seksual dalam 6 bulan menjelang penelitian.

Para wanita didekati dalam waktu 2 minggu setelah mereka mengunjungi dokter perawatan primer atau ginekolog mereka, dan para peneliti memilih peserta menggunakan catatan kesehatan elektronik. Dalam survei tersebut, para wanita ditanya tentang riwayat "gejala vulvovaginal, kemih, dan seksual."

Para peneliti mengumpulkan pertanyaan dari International Urogynecology Association-Revised Organ Pelvic Organ Prolapse/Incontinence Sexual Questionnaire, dan mereka menggabungkannya dengan pertanyaan serupa yang mereka rancang khusus untuk gejala atrofi vulvovaginal.

Alasan utama yang dilaporkan sendiri mengapa wanita tak aktif secara seksual adalah kurangnya pasangan, dengan 47 persen responden mengatakan bahwa inilah masalahnya, atau “kurangnya minat atau ketakmampuan fisik” pasangannya, dengan 55 persen peserta menanggapi demikian.

Namun, selain itu, responden melaporkan beberapa alasan medis. “Kebocoran kandung kemih, urgensi, atau terlalu sering buang air kecil” dicatat oleh 7 persen wanita, sementara 26 persen dari mereka mengatakan bahwa ketakaktifan seksual mereka adalah “karena kekeringan, iritasi, atau nyeri vulvovaginal,” dan 24 persen mengatakan bahwa dispareunia adalah alasan utama.

Wanita yang aktif secara seksual juga melaporkan merasa "sakit atau tak nyaman" saat berhubungan seks, dengan 45 persen dari mereka mengatakan bahwa mereka "biasanya" atau "selalu" merasakan sakit seperti itu. Juga, 7 persen dari wanita ini mengatakan bahwa mereka mengalami kebocoran urin saat berhubungan.

Kekeringan vagina adalah masalah umum lainnya, dan 64 wanita yang tak menggunakan pelumas melaporkan mengalami masalah ini.

Secara keseluruhan, “[Untuk] wanita yang aktif secara seksual dan tak aktif, ketakutan mengalami [seks yang menyakitkan] dilaporkan sebagai alasan untuk menghindari atau membatasi seks lebih sering […] daripada ketakutan akan gejala kandung kemih,” tulis para penulis.

Lebih khusus lagi, 20 persen wanita melaporkan ketakutan akan gejala atrofi vulvovaginal, sementara hanya 9 persen yang melaporkan ketakutan akan gejala kontrol kandung kemih.

Clark dan rekan-rekannya menyimpulkan, “wanita pascamenopause melaporkan bahwa gejala [GSM] terjadi selama aktivitas seksual. Lebih lanjut, gejala-gejala ini membatasi kemampuan untuk aktif secara seksual dan secara negatif mempengaruhi pengalaman emosional kehidupan seksual mereka.”

Baca Juga: Tahan Lama Saat 'Begituan' Bukan Berarti Perkasa Lho Moms! Dokter Dina Beber Penyebabnya, Bisa Jadi Paksu Alami Gangguan...

Baca Juga: Moms Wajib Tahu Nih! Ternyata PakSu Seneng Kalau Moms Usap 'Anu'-nya, Langsung Berdiri

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Share Artikel:

Lihat Sumber Artikel di Suara.com

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

Oleh: Azka Elfriza