Beauty, sudah sejak beberapa tahun terakhir bermunculan akun-akun gosip di media sosial, Namun nama-nama akun ini banyak memakai kata "Mak" yang berarti ibu, seperti Mak Lambe atau Mak Nyinyir.

Enggak cuma itu, adegan wanita bergerombol sambil bergosip tentang wanita lain yang belanja di tukang sayur pasti sudah terlalu sering kamu saksikan.

Berbeda dari direct aggression yang lebih mengutamakan kontak fisik, indirect aggression bentuknya enggak langsung dan menguntungkan pelaku yang bersembunyi di balik anonimitas. Dilansir dari beberapa sumber, secara umum, indirect aggression menjadi strategi pilihan wanita ketika berkonflik dengan wanita lain.

Nah, hal yang paling sering terjadi ialah karena adanya bias gender yang membuat keadaan ini makin parah, Beauty. Pandangan akan wanita seolah terbentuk seperti itu.

Pola sosialisasi memainkan peran jadi hal pokok dalam strategi wanita ketika berhadapan dengan konflik. Mulai dari hal kecil, wanita maupun pria dibesarkan dengan cara yang berbeda.

Kalau berkelompok, pria  lebih banyak bermain "games", yaitu permainan kompetitif yang memiliki aturan dan tujuan yang jelas. Ada pihak yang menang dan kalah. Dalam permainan yang kompetitif ini, semua hal diatur berdasarkan hierarki.

Wanita sendiri terbiasa melakukan "play", interaksi informal dan kooperatif yang enggak punya tujuan, aturan, strategi untuk menang yang jelas. Bahkan enggak ada yang menang dan kalah. Contohnya bermain masak-masakan atau bermain boneka. Ketika bermain, wanita disosialisasikan untuk belajar membangun hubungan dan keakraban.

Berikut adalah persoalan bias gender yang mendarah daging, khususnya di negara kita ini. Simak ya!

1. Wanita nggak bisa kompetitif

Pola sosialisasi yang bias gender ini memiliki dua dampak, Beauty. Mula-mula, wanita cenderung mengkritik dan menolak wanita lain yang perilakunya tampak kompetitif.

Peneliti Diane Carlene Jones menemukan bahwa salah satu perbedaan utama dari wanita dan pria adalah persepsi terhadap pemegang kekuasaan. Pria lebih bisa menerima sesamanya yang memiliki power, sedangkan wanita cenderung menolaknya.

2. Wanita menghindari konflik

Selanjutnya, wanita jadi nggak terbiasa dengan konflik. Pria sendiri belajar bertahan dalam pertemanan yang hierarkis sehingga terbiasa menghadapi konflik dengan agresif. Kebiasaan berkonflik juga melatih pria untuk mengambil jarak secara personal ketika diserang.

Keakraban antar pria sifatnya sesuai kebutuhan, mereka bisa bertengkar hebat, lalu baikan lagi. Beda lagi dengan wanita yang pertemanannya lebih dalam sehingga ketika ada konflik, rasanya jadi personal banget.

3. Wanita agresif dianggap melenceng

Sejak masih nak-anak, sudah ada pengenalan pada peran gender yang membolehkan pria berlaku agresif, namun wanita jutsru dilarang untuk agresif. Makanya jadi hal yang lumrah menemukan pria yang bertengkar. Kalau wanita, harus ada kesepakatan kultural yang melarang wanita untuk mengkonfrontasi langsung orang yang membuat mereka marah.

Misalnya di sekolah, wanita diajarkan untuk mengikuti aturan, menunggu giliran, dan bersikap sopan. Sedangkan pria diajarkan untuk kompetitif, agresif, dan sedikit kasar. Makanya ketika ada konflik, wanita cenderung menggunakan cara-cara agresi yang nggak langsung (indirect aggression).

Contoh perilakunya semisal, bergosip buruk, menyebarkan rumor, melakukan sabotase, mengucilkan dari kelompok, menghindari kontak mata, dan sebagainya. Ini pilihan paling masuk akal bagi wanita ketika sepanjang hidupnya ia diharapkan masyarakat untuk menghindari konflik, menjaga hubungan baik, dan menjadi baik.

Baca Juga: Selalu Salah Kaprah, Inilah 5 Fakta Feminisme yang Harus Kamu Ketahui!

Jadi, itulah beberapa hal yang membuat bias gender ini nggak bisa lagi dihindari dari perilaku masyarakat kita. Perubahan pola pikir terhadap bias gender ini memang sejatinya penting banget untuk dilakukan, meskipun rasanya sulit kalau disosialisasikan kepada orang-orang yang lebih berumur, karena biasanya lebih patriarki dan mangut-mangut saja terhadap sebuah kultur, meskipun buruk.