Ilustrasi bayi kembar. (unsplash/Fallon Michael)
Mempunyai keturunan adalah anugerah bagi sepasang suami istri. Siapa sih diantara Moms yang ngga suka kalau dikaruniai si kecil yang lucu dan menggemaskan. Apalagi si kecil yang masih ada di perut tumbuh dengan semestinya. Moms pasti bahagia setiap bulan mengecek kondisi kandungan dan melihat aktivitas si kecil. Tapi, kalau si kecil tumbuh dengan ukuran yang terlalu besar bagaimana ya? Rata-rata bayi lahir dengan berat kurang lebih 3,2 kg sampai 2,4 kg. Si kecil bisa disebut besar ketika memiliki bobot lebih dari 4 kg. Secara medis, bayi yang lahir dengan berat diatas 4 kg disebut makrosomia.
Bayi yang punya ukuran terlalu besar biasanya disebabkan beberapa faktor. Pertama, Moms mempunyai penyakit bawaan yaitu diabetes. Biasanya, kadar gula darah yang tinggi akan membuat janin juga tumbuh lebih besar daripada bayi biasanya. Kedua, Moms yang mengalami kelebihan berat badan selama hamil juga punya risiko untuk mengandung bayi yang berukuran besar. Ketiga, faktor genetik ternyata memengaruhi lho! Kalau Moms atau pasangan punya riwayat keluarga dengan bayi besar juga punya risiko yang lebih besar. Keempat, si kecil yang berjenis kelamin laki-laki kemungkinan ukurannya lebih besar dari pada perempuan.
Nah setelah tahu apa aja penyebabnya, Moms bisa persiapkan 3 hal ini saat proses persalinan. Melahirkan si kecil yang berukuran besar selain berisiko juga punya tantangan tersendiri bagi orang tua bayi. Yuk simak artikel di bawah ini.
Bayi dengan ukuran yang lebih besar tentunya akan lebih sulit ketika proses persalinan. Beberapa risiko mulai dari robeknya vagina secara berat, persalinan yang lama, perdarahan, hingga gangguan tulang ekor. Biasanya, bayi dengan ukuran yang cukup besar disarankan menggunakan operasi caesar agar tidak terjadi robeknya vagina yang berat. Kalau Moms masih ingin melakukan persalinan normal, Moms bisa lebih mengonsumsi makanan sehat dan olahraga secara teratur. Tapi tetap patuhi arahan dan anjuran dokter ya Moms agar risikonya bisa diminimalisir.
Dokter biasanya akan menyarankan tes gula darah ketika si kecil cenderung berukuran besar. Tes ini bertujuan agar bisa mendeteksi apakah Moms punya penyakit diabetes gestasional. Diabetes ini hanya muncul saat masa kehamilan dan berlangsung hingga proses melahirkan. Kondisi ini bisa membahayakan Moms dan si kecil. Biasanya, Moms dengan kondisi seperti ini akan memiliki treatment khusus biar kehamilannya ngga berisiko seperti ada diet sehat, mengonsumsi obat-obatan tertentu, dan berolahraga.
Moms ngga ada salahnya kan kalau kita jaga-jaga? Si kecil yang berukuran besar punya risiko lain ketika persalinan seperti distosia bahu. Kondisi ini terjadi ketika salah satu atau kedua bahi si kecil tersangkut di belakang tulang pinggul ibu. Akibatnya, proses persalinan macet di tengah jalan. Ini juga berisiko besar buat si kecil Moms. Bayi akan lebih besar kemungkinan mengalami cedera saat dilahirkan. Bayi yang memiliki ukuran lebih besar juga punya kemungkinan memiliki gula darah yang rendah saat lahir. Meskipun kondisi ini bisa dicegah, tapi Moms bisa persiapkannya mulai dari sekarang.