Ilustrasi wanita melahirkan (Unsplash/Sharon McCutcheon)
Momen kelahiran adalah hal yang membahagiakan sekaligus mendebarkan bagi setiap ibu. Pasalnya, setelah menanti selama sembilan bulan akhirnya Moms bisa bertemu dengan si kecil.
Kendati demikian, beberapa ibu yang akan melahirkan sering kali diterpa kekhawatiran saat akan melahirkan. Moms mungkin sudah tidak asing lagi dengan kontraksi, induksi, atau bahkan cerita-cerita tentang sakitnya perjuangan ibu saat melahirkan.
Selain itu, masih ada hal-hal kecil yang sebenarnya dapat terjadi selama persalinan dan seringnya tidak diperhatikan. Beberapa di antaranya umum dan tidak berbahaya, sementara lainnya membutuhkan perawatan yang mendesak.
Mengutip dari Parents, berikut adalah hal-hal yang harus diperhatikan.
Otot yang digunakan saat buang air besar, juga akan digunakan selama melahirkan. Sehingga ada kemungkinan seorang wanita BAB, walau sedikit, selama bersalin.
Hal yang umum bagi wanita untuk buang air besar selama persalinan dan berarti otot-otot digunakan untuk mendorong bayi keluar adalah tepat.
Tidak hanya terjadi selama kehamilan, mual dan muntah dapat terjadi selama persalinan. Terutama selama tahap aktif dan ketika sang Ibu mendorong bayi keluar.
Tahap persalinan pertama meliputi fase laten (persalinan dini), fase aktif, dan fase transisi. Tetapi terkadang fase-fase ini tidak terjadi secepat yang seharusnya.
Perineum, daerah antara vagina dan anus yang dapat robek saat persalinan apabila lubang vagina tidak cukup lebar. Sekitar 90 persen wanita mengalami robekan vagina selama persalinan. Robekan tingkat pertama atau kedua mungkin hanya menyebabkan ketidaknyamanan kecil dalam beberapa minggu, namun robekan tingkat ketiga atau keempat membutuhkan waktu lebih dari beberapa minggu untuk sembuh.
Keluarnya bayi bukanlah akhir dari persalinan. Biasanya beberapa wanita akan mengalami retensi plasenta, atau kondisi ketika plasenta masih berada di dalam rahim.
Hal yang normal saat mengalami kontraksi untuk melanjutkan postpartum, karena tubuh perlu mengeluarkan plasenta dari rahim. Kontraksi juga diperlukan untuk mengurangi jumlah pendarahan postpartum.
"Pengeluaran plasenta sering terjadi dengan sendirinya dalam 30 menit setelah persalinan karena plasenta terpisah dari dinding rahim dan didorong keluar dengan kontraksi," lanjutnya.