Menu

Didiagnosis Depresi Padahal Terlihat Bahagia? Awas Smiling Depression

29 Desember 2020 20:30 WIB

Ilustrasi smiling depression (Getty Images)

HerStory, Purwokerto —

Beauty pernah melihat atau mungkin merasakan menjadi penyintas depresi? Rasanya emang dunia ini menjadi kelam ya. Depresi selalu dikaitkan dengan kondisi sedih yang berkepanjangan. Penderitanya juga jadi engga semangat melakukan kegiatan apapun. Tapi, Beauty pernah melihat seseorang yang udah didiagnosis depresi tapi ia masih terlihat bahagia? Dalam dunia psikologi, kondisi ini dinamakan smiling depression atau istilah yang menggambarkan seseorang menutupi gejala depresi. Berbeda dengan orang depresi yang terlihat muram, orang yang menggunakan smiling depression akan terlihat baik-baik aja bahkan ceria. Orang yang melakukannya terkadang merasa putus asa karena kondisi yang mereka derita engga sembuh-sembuh. Meskipun kondisi ini bukan termasuk gangguan mental, namun kondisi ini perlu diwaspadai. 

Orang yang menggunakan kebahagiaan untuk menutupi masalah mentalnya punya alasan tersendiri. Pertama, ia takut bila dianggap lemah oleh orang lain. Kedua, ia ingin selalu terlihat bahagia dan baik-baik saja meskipun mentalnya sedang tidak baik. Ketiga, mereka engga ingin bikin orang di sekitarnya khawatir tentang kesehatan mentalnya. Keempat, ia memang engga ingin menunjukkan masalah yang sedang dialami ke orang lain.

Alasan-alasan yang sudah disebutkan biasanya akan terucap dari seseorang yang menggunakan smiling depression. Dampak dari kondisi ini juga besar, lho. Depresi yang mereka derita bisa jadi engga terdeteksi orang sekitar. Selain itu, manipulasi emosi juga akan memperburuk depresi yang ia derita. Dan yang lebih mirisnya, ketika kondisi mentalnya engga bisa diatasi lagi dengan “senyuman” ia akan melampiaskan ke hal lain seperti menyakiti diri sendiri.

Nah kalau sudah seperti ini, sebaiknya Beauty segera menemui tenaga profesional dan melakukan konsultasi secara rutin ya. Jangan terbiasa untuk selalu terlihat bahagia karena emosi negatif juga terkadang perlu dikeluarkan. Beauty bisa bercerita ke orang yang dipercaya karena semakin menutupinya, maka akan semakin banyak sumbatan emosi yang terjadi. Dengan membuka diri, ada kemungkinan juga orang lain akan memberimu dukungan. Kalau Beauty adalah orang terdekat, Beauty bisa mengajaknya mengobrol dan bercerita. Pastikan obrolannya engga menyinggung atau menambah pikiran ya. Beauty juga bisa mendorongnya untuk berkonsultasi dengan profesional. Yakinkan mereka kalau mereka membutuhkan penanganan baik secara medis maupun psikis secepatnya.

Artikel Pilihan