Ilustrasi self-harm (Shutterstock)
Beauty, selain menjaga kesehatan fisik, kesehatan mental juga perlu diperhatikan ya. Banyak dari kita masih lebih mengutamakan kesehatan fisik daripada mental. Padahal kalau mental kita terganggu, banyak banget aktivitas yang terhambat bahkan susah untuk dilakukan. Gangguan mental engga hanya menghambat aktivitas, tapi juga hubungan sosial dan punya dampak besar ke diri sendiri. Membahas tentang gangguan mental emang engga bisa jauh-jauh dari fenomena self-harm atau menyakiti diri sendiri. Perilaku ini bisa berbentuk berbagai macam seperti menegak racun, menyayat tubuh, memukul diri sendiri, dan lain sebagainya. Ngga hanya itu, minum alkohol berlebih, penyalahgunaan narkoba, dan ugal-ugalan di jalan juga termasuk perilaku menyakiti diri sendiri.
Biasanya orang yang meluakai diri sendiri punya beberapa alasan kenapa mereka melakukannya. Banyak orang melakukan self-harm karena mereka ingin mengurangi beban yang mereka tanggung. Selain itu, ada juga yang melakukannya karena sebagai pelampiasan dari kekerasan fisik yang pernah mereka terima. Mereka juga biasanya membenci diri sendiri sehingga berniat ingin melukai diri sendiri. Ada pula yang melampiaskan emosi dengan cara self-harm karena udah engga bisa mengontrolnya. Karena self-harm ini sangat berbahaya, Beauty harus tahu 5 tanda awal gejala self-harm. Dengan tau apa aja tandanya, Beauty bisa menyelamatkan orang dan juga diri sendiri.
Secara alamiah, kita engga akan membiarkan orang lain menyakiti diri kita baik secara fisik maupun emosional. Kita akan cenderung melawan, menghindar, atau mungkin pergi untuk menghindari konflik. Tapi, beda dengan orang yang punya keinginan untuk melukai diri sendiri. Mereka yang punya kecenderungan ini justru “mempersilakan” orang lain untuk menyakiti dirinya. Mereka melakukan ini bukan tanpa alasan lho. Mereka seperti ini karena mereka juga benci dengan diri sendiri, jadi ia berpikir kalau orang lain melukainya adalah hal yang wajar dan diperbolehkan. Menyakiti ini engga cuma berlaku secara fisik aja, tetapi juga secara emosional. Bisa saja mereka terjebak hubungan yang toxic, tapi mereka memilih bertahan karena memandang dirinya pantas untuk disakiti.
Beauty atau temanmu ada yang suka menarik-narik rambut? Bisa jadi kondisi ini adalah gejala self-harm. Umumnya, orang akan merasa senang dengan rambut yang dimiliki dan engga punya keinginan untuk menariknya. Kita semua juga tahu kalau menarik rambut akan menimbulkan rasa sakit pada kepala. Tapi, orang yang punya kecenderungan self-harm ternyata suka menarik-narik rambutnya sendiri. Meskipun ini bukan gejala yang dipunyai semua orang, tapi sensasi dari menarik rambut justru membuatnya merasa sedikit lega. Rasa sakit itu bisa didapatkannya dari menarik rambut. Kalau sudah seperti ini, kemungkinan untuk self-harm akan lebih besar lagi karena sudah melakukan bentuk kekerasan fisik pada diri sendiri meskipun dalam skala kecil.
Keadaan yang membuat panik emang engga enak banget ya. Pikiran kita jadi engga fokus dan mendadak jadi susah ngomong. Kondisi ini juga bisa terjadi saat kita cemas. Pikiran yang sangat kalut dan kacau karena ketakutan akan sesuatu bisa bikin kita gugup seketika. Biasanya, orang akan cenderung menenangkan diri dengan mencari tempat yang sepi atau hanya sekedar menarik nafas biar bisa berpikir jernih. Tapi, orang yang punya kecenderungan self-harm akan mencubit kulitnya sendiri saat cemas. Meskipun engga disadari, tapi ini juga salah satu tanda kekerasan fisik skala kecil. Kulit yang merasakan sakit akan menetralkan rasa panik atau cemas yang kita alami. Bahkan pada kasus yang cukup parah akan menimbulkan luka seperti kemerahan atau bahkan lebam.
Siapa disini yang seneng banget nonton film, video, atau series? Sejak pandemi, banyak banget ya orang yang melakukan kegiatan ini. Menonton sesuatu yang membuat kita senang atau merasa lebih baik ternyata ada manfaatnya lho. Saat kita melihat sesuatu yang kita suka, hormon serotonin atau hormon bahagia akan meningkat dan bisa menaikkan mood. Tapi, berbeda dengan orang yang punya kecenderungan self-harm. Mereka justru menonton sesuatu yang membuatnya merasa sedih, marah, atau merasakan emosi negatif lainnya. Mereka menganggap bahwa apa yang ada di layar kaca itu sebagai cerminan kehidupannya yang kelam. Tontonan ini justru akan meningkatkan emosi negatif dan membuatnya semakin merasa engga berharga.