Menu

Ternyata Patah Hati Bisa Bikin Meninggal! Kenali Broken Heart Syndrome yang Diam-Diam Mematikan

07 Januari 2021 11:45 WIB

Ilustrasi wanita yang mengalami sakit jantung. (pinterest/freepik)

HerStory, Purwokerto —

Patah hati emang bikin kita jadi sedih banget ya Beauty. Rasanya cuma ingin sendirian di kamar dan enggak ketemu siapa-siapa. Saking sedihnya, kadang orang juga tahu kalau kita lagi patah hati. Tapi Beauty tahu engga kalau memang ada penyakit yang disebabkan karena patah hati? Dalam dunia medis, penyakit yang menyerang jantung ini disebut dengan broken heart syndrome. Penyakit ini juga dikenal dengan nama takotsubo cardiomyopathy. Penyakit ini terjadi karena tekanan emosional yang terlalu berat dan akhirnya memengaruhi sistem kerja jantung. Faktanya, wanita sembian kali lebih berisiko daripada pria karena wanita cenderung lebih mudah stres. Selain itu, wanita yang berusia antara 63-67 tahun lebih berisiko untuk terkena penyakit ini.

Gejala penyakit ini hampir mirip dengan penyakit jantung koroner. Karena kemiripan itu, kadang penyakit ini sering salah didiagnosis dengan penyakit jantung koroner. Meskipun penyakit ini bisa dipicu karena patah hati, tapi praktik stres fisik juga bisa meningkatkan risiko yang lebih tinggi. Stres fisik seperti penyalahgunaan obat terlarang, mengidap penyakit berat, nyeri akut, hingga upaya bunuh diri juga bisa memicu penyakit ini. Broken heart syndrome punya beberapa gejala seperti nyeri lengan atau punggung, tenggorokan serasa tercekik, pingsan mendadak, nyeri dadam dan napas pendek.

Tapi tenang Beauty. Meskipun penyakit ini bisa menyebabkan kematian, tapi broken heart syndrome bisa dicegah. Manajemen stres dalam diri sendiri bisa mengurangi risiko penyakit broken heart syndrome. Penyakit ini juga enggak meninggalkan jejak permanen kok. Enggak seperti penyakit jantung koroner yang meninggalkan sisa di struktur jantung. Namun yang perlu diingat, penyakit ini bisa menyebabkan gagal jantung hingga kematian kalau enggak ditangani dengan segera. Dokter biasanya akan memberikan pengobatan berupa pemberian oksigen dan obat pengencer darah. Sisanya, dokter atau tenaga profesional lain akan membantu untuk mengelola stres pasien.

Artikel Pilihan