Menu

Waspada! Hipertensi Juga Mengancam Anak Lho Moms, Begini Kata Dokter Ahli

20 Agustus 2021 07:45 WIB

Ilustrasi anak hipertensi/tekanan darah tinggi. (Shutterstock/Edited By HerStory)

HerStory, Bogor —

Hipertensi atau tekanan darah tinggi selalu dikaitkan dengan masalah kesehatan orang dewasa. Padahal, hipertensi juga bisa menyerang anak-anak lho, Moms.

Ahli spesialis anak, Dr. dr. Partini Pudjiastuti Trihono, Sp.A(K), pun mengungkapkan, anak dengan hipertensi punya risiko hampir 4 kali lebih besar untuk menderita hipertensi pada masa dewasa dibandingkan anak normal.

“Hipetensi pada anak memberikan dampak pada kesehatan kardiovaskular pada masa dewasa, karena pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis) telah berlangsung sejak masa anak,” papar dr. Partini, sebagaimana dikutip HerStory dari laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Jumat (20/8/2021).

dr. Partini bilang, peningkatan angka kejadian hipertensi pada anak dan remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan kejadian obesitas atau kegemukan dan gaya hidup anak.

“Seperti, anak kurang beraktivitas, terlalu banyak bermain gadget atau menonton televisi, asupan makanan yang tinggi kalori, tinggi garam, serta minuman yang mengandung alkohol dan kafein, kebiasaan merokok, stres mental, dan kurang tidur,” beber dr. Partini.

Ditinjau dari penyebabnya, sambung dr. Partini, hipertensi pada anak dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit tertentu dan hipertensi yang tidak disebabkan oleh penyakit, yang dikenal sebagai hipertensi primer/esensial.

Pada anak kecil dan pra-remaja sebagian besar merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit.

“Penyakit ginjal dan pembuluh darah ginjal merupakan penyebab tersering, contohnya seperti peradangan ginjal, infeksi ginjal kronik, penyumbatan aliran urin, batu ginjal, kelainan kongenital saluran kemih, penyempitan pembuluh darah ginjal, dan sebagainya,” jelasnya.

Ia pun menyebut, hipertensi primer atau esensial lebih sering ditemukan pada remaja, meliputi 85-90% kasus.

“Hipertensi primer sangat jarang ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun. Faktor risiko yang dikaitkan dengan terjadinya hipertensi esensial adalah riwayat hipertensi dalam keluarga dan kegemukan atau obesitas,” ungkapnya.

Lantas, apa gejala dan tanda anak yang mengalami hipertensi?

dr. Partini bilang, pada bayi baru lahir, hipertensi dapat memberikan gejala sesak napas, berkeringat, gelisah, pucat/sianosis, muntah, dan kejang.

“Pada anak yang lebih besar, gejala dan tanda berikut ini perlu dipikirkan kemungkinan hipertensi, yakni rasa lelah, kejang, penurunan kesadaran, sakit kepala, mendadak penglihatan kabur, mual, perdarahan hidung (mimisan), nyeri dada, kenaikan berat badan yang tidak adekuat, perawakan pendek, dan kelumpuhan otot,” terangnya.

Untuk mencegah penyakit ini lebih dalam menyerang anak, dr. Partini pun menyarankan, idealnya, setiap anak yang berusia 3 tahun atau lebih menjalani pemeriksaan tekanan darah, setidaknya setahun sekali, seperti halnya pengukuran berat dan tinggi badan yang perlu dilakukan pada setiap anak secara regular.

“Pada anak-anak dengan riwayat lahir prematur, berat lahir kurang dari 2500 gram, atau riwayat dirawat di ruang perawatan intensif/ICU, memerlukan pemeriksaan tekanan darah lebih dini. Pada setiap anak yang memberikan gejala dan tanda seperti disebutkan di atas perlu dilakukan pemeriksaan tekanan darah,” tuntasnya.

Nah Moms, jangan ragu periksakan kesehatan anak ya, agar penyakit bisa dicegah sejak dini. Semoga informasinya bermanfaat!

Artikel Pilihan