Ibu hamil sedang memeriksakan tekanan darahnya. (Pinterest/Freepik)
Tekanan darah tinggi, atau dikenal dengan istilah hipertensi, adalah kondisi yang sangat membahayakan. Terlebih jika terjadi pada masa kehamilan. Jika tidak ditangani dengan tepat, maka hal ini akan membawa dampak buruk untuk ibu dan janinnya.
Hipertensi pada masa kehamilan diketahui bisa menyebabkan kerusakan fungsi organ, seperti ginjal, hati, bahkan otak. Sedangkan pada janin, tekanan darah yang terlalu tinggi bisa memicu lahir prematur, pertumbuhan janin yang terhambat, serta penyakit kardiovaskular.
Namun belakangan, sebuah studi mengungkapkan bahwa tekanan darah tinggi pada ibu hamil membawa akibat yang lebih serius dari dugaan. Penelitian menunjukkan bahwa hipertensi saat hamil bisa meningkatkan risiko stroke pada anak setelah beberapa dekade.
Seberapa besar bahaya dan risiko stroke yang dialami oleh janin tersebut? Apa hal ini dapat dicegah? Berikut penjelasan yang telah HerStory rangkum untuk Moms.
Mengenal Hipertensi pada Ibu Hamil
Ibu hamil disebut mengalami hipertensi jika tekanan darahnya melebihi angka 140/90 mmHg. Umumnya kondisi ini muncul mulai usia kehamilan 20 minggu, atau bahkan sebelumnya. Berdasarkan laporan, tekanan darah tinggi dialami oleh 5-10 persen ibu hamil di seluruh dunia.
Hipertensi pada ibu hamil sendiri cukup beragam, mulai dari yang paling ringan hingga serius. Secara umum, tekanan darah tinggi pada ibu hamil ditandai dengan wajah dan tangan yang bengkak, sakit kepala, sesak napas, dan mual-muntah.
Jika mengalami salah satu dari kondisi di atas, maka Moms harus segera melakukan tindakan tepat. Karena penanganan yang terlambat akan berakibat fatal.
Dampak Hipertensi pada Ibu Hamil bagi Perkembangan Anak
Nyatanya, dampak hipertensi pada kehamilan ternyata tidak berakhir begitu saja setelah bayi lahir. Sebuah penelitian di Karolinska Institute, Stockholm, mengungkap bahwa kondisi ini diduga meningkatkan risiko stroke dan kerusakan hati saat bayi telah tumbuh besar dan mencapai usia 41 tahun.
"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa masalah hipertensi selama kehamilan ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko stroke dan potensi penyakit jantung yang diturunkan hingga usia 41 tahun," demikian studi yang dilakukan oleh Fen Yang, seorang mahasiswa doktoral di Karolinska Institute, Stockholm.
Studi dilakukan pada lebih dari 5,8 juta anak-anak yang lahir di Swedia mulai tahun 1973 dan di Finlandia mulai tahun 1987. Kedua grup anak-anak tersebut diteliti hingga tahun 2014.
Begini Cara Mencegahnya!
Mengingat dampaknya yang cukup serius, maka tekanan darah tinggi pada ibu hamil harus dicegah dan diatasi. Agar tidak terjadi hipertensi, maka ibu hamil juga perlu melakukan olahraga secara teratur.
Konsumsi makanan bergizi juga sangat penting agar kebutuhan nutrisi tubuh seimbang dan terpenuhi dengan baik. Pengelolaan stress juga menjadi cara penting agar kondisi ibu hamil tetap stabil.
Itulah beberapa informasi tentang hipertensi saat hamil bisa meningkatkan risiko stroke pada anak. Pastikan Moms terus menjaga kondisi kesehatan ya. Jangan lupa untuk terus memantau perkembangan kehamilan bersama dokter kandungan.