Menu

Heboh Lelang Keperawanan, Gimana Cara Membuktikannya?

21 Mei 2020 15:00 WIB

Ilustrasi kesehatan reproduksi wanita. (pinterest/freepik)

HerStory, Jakarta —

Dunia maya sedang dihebohkan dengan aksi selebgram Sarah Keihl yang melelang keperawanannya demi mengumpulkan donasi di tengah pandemi corona. Aksi Sarah Keihl pun lantas menuai kontroversi dan banyak yang bertanya-tanya apakah keperawan bisa dipastikan secara medis?

Melansir CNN (21/5/2020) hingga saat ini banyak dokter dan ilmuwan yang mengatakan bahwa belum ada ada tes yang dapat secara akurat menentukan apakah seorang wanita masih perawan atau telah melakukan hubungan seks.

Baca Juga: Mengejutkan! Selebgram Sarah Keihl Lelang Keperawanan Rp2 Miliar untuk Donasi COVID-19

Namun, menurut PBB, praktik yang disebut "tes keperawanan" telah didokumentasikan setidaknya di 20 negara di seluruh dunia. Diantaranya, Amerika Serikat. Investigasi yang baru-baru ini diterbitkan oleh Marie Claire dan Fuller Project menemukan ada dokter di AS yang menerima permintaan untuk melakukan tes keperawanan.

Hal yang perlu diingat bahwa belum ada pedoman yang jelas dari organisasi medis utama AS tentang bagaimana dokter mengetahui apakah pasiennya perawan atau tidak. Oleh sebab itu, American College of Obstetricians dan Gynaecologists mengatakan bahwa tes keperawanan yang telah dilakukan oleh beberapa negara hasilnya tak valid.

"Siapa pun yang memiliki gagasan bahwa secara biologis keperawanan bisa di tes, sebenarnya itu tidak benar. Mereka harus diberi tahu bahwa Keperawanan adalah konstruksi sosial patriarkal. Tes keperawanan berdasarkan mitos dan ide-ide zaman dahulu," ujar Jennifer Gunter, seorang ginekolog yang menulis tentang masalah kesehatan wanita kepada CNN.

Baca Juga: Heboh Lelang Keperawanan untuk Donasi, Ini Klarifikasi Sarah Keihl

"Tes Keperawanan" yang dipahami biasanya dilakukan dengan dua cara, pertama memeriksa selaput dara untuk mencari air mata atau melihat ukuran dan bentuknya. Kedua, melalui "tes dua jari," yang melibatkan memasukkan jari ke dalam vagina.

Tetapi praktiknya, kata dokter, didasarkan pada kesalahpahaman tentang tubuh wanita dan gagasan kuno tentang "keperawanan". Umumnya orang-orang memahami keperawanan dengan utuhnya selaput dara. Padahal itu hanyalah kesalahpahaman.

"Meskipun orang sering berpikir selaput dara sepenuhnya menutupi lubang vagina, dalam banyak kasus, itu (selaput dara) hanya mengelilinginya," kata Gunter.

Baca Juga: Hati-Hati! Bersihkan Miss V Pakai Sabun Bikin Bahaya

Selain itu, ia juga menambahkan bahwa selaput dara bisa sobek saat melakukan olahraga ataupun saat menggunakan tampon.

"Selama hubungan seksual, terkadang bisa sobek atau diregangkan. Tetapi juga dapat merobek atau meregangkan melalui penggunaan tampon, kegiatan olahraga atau prosedur medis," tambahnya.

Hal yang perlu diketahui adalah saat melakukan tes keperawanan, itu akan merusak psikologis seorang wanita. Mereka akan merasa bersalah, jijik pada diri sendiri, depresi, dan merasa gelisah karena menggap citra tubuhnya menjadi negatif.

Stigma seksual yang disebabkan oleh tes keperawanan dapat mendorong wanita untuk melakukan perilaku berisiko. Mereka mungkin memilih seks oral atau anal untuk mempertahankan keperawanan mereka yang dapat menyebabkan infeksi menular seksual, atau IMS, jika dilakukan tanpa perlindungan.

Share Artikel:

Oleh: Nada Saffana

Artikel Pilihan