Ilustrasi USG kehamilan. (Unsplash/Kelly Sikkema)
Memiliki anak menjadi dambaan banyak pasangan suami istri. Namun, sayangnya enggak semua wanita bisa hamil dengan mudah. Ada banyak wanita yang harus berjuang untuk memiliki keturunan.
Hal ini tentu disebabkan dengan masalah kesuburan atau infertilitas. Tapi, gangguan kesuburan ini ternyata bukan hanya disebabkan oleh wanita lho. Kaum pria juga menyumbang angka gangguan kesuburan sehingga sulit memiliki buah hati.
"Ketidaksuburan bisa dialami oleh laki-laki maupun perempuan. Untuk laki-laki karena adanya masalah pada sperma, bisa juga pada wanita masalah telurnya itu enggak ada yang dihasilkan. Atau dari masalah saluran telur, ada sumbatan jadinya enggak bisa lewat telurnya," ujar dr. Caroline Setiawan, Sp.OG dari ZAP Health kepada HerStory beberapa waktu lalu.
dr. Caroline pun menjelaskan bahwa presentase laki-laki menyumbang angka 35% masalah fertilitas. Kemudian ada juga dari masalah telur itu 15%, dari masalah saluran telur dan organ di panggul lainnya 35%, hingga sebesar 10-15lum bisa diketahui penyebabnya.
"Kalau sulit hamil itu yang salah enggak selalu perempuan aja. Karena 35% itu juga disumbang dari masalah kesuburan pria. Jadi kalau pasangan susah mendapatkan keturunan, baik suami ataupun istri harus diperiksa," tutur dr. Caroline.
Oleh sebab itu, dr. Caroline pun mengimbau pasangan suami istri untuk melakukan pemeriksaan organ reproduksi. Hal yang paling harus diperhatikan saat ingin program hamil adalah jumlah sel telur.
Dikatakan bahwa faktor yang paling mempegaruhi sel telur adalah usia. Usia makin bertambah, sel telur makin berkurang. Namun, untuk pria tak mengalami penurunan kualitas sperma secepat kaum wanita.
Sementara itu, dr. Caroline juga menjelaskan bahwa sel telur bisa dilihat dari siklus menstruasi yang lancar. Pasalnya selama menstruasi, ada proses ovulasi yang mengeluarkan sel telur matang dan siap bertemu dengan sel sperma sehingga terjadi kehamilan.
Sementara itu ada hal lain yang mempengaruhi sel telur wanita. Jika seseorang sedang mengalami stres, itu bisa mempengaruhi hormon yang menghasilkan sel telur sehingga tak terjadi menstruasi dan sulit untuk memiliki keturunan.
dr. Caroline pun mengingatkan betapa pentingnya mengelola stres. Terlebih ketika ingin melakukan program hamil agar tak mempengaruhi siklus menstruasi yang berkaitan erat dengan kesuburan.