Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dari RS Siloam Kebon Jeruk Jakarta. dr. Henry Suhendra, Sp.OT. (Dok. Pribadi/Edited By HerStory)
Beauty, kamu pasti sudah mendengar apa itu osteoporosis. Osteoporosis merupakan kondisi berkurangnya kepadatan tulang yang umumnya kita asosiasikan dengan kondisi yang hanya terjadi pada orang lanjut usia. Dan, tahukah kamu Beauty, bahwa osteoporosis juga dapat menyerang anak-anak dan remaja lho!
Menurut Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dari RS Siloam Kebon Jeruk Jakarta. dr. Henry Suhendra, Sp.OT, secara umum, osteoporosis terbagi dalam dua kelompok, yaitu osteoporosis primer dan sekunder.
“Osteoporosis itu kita bagi dua basic-nya, yaitu osteoporosis primer dan osteoporosis sekunder. Jadi kalau yang primer itu bisa dibilang yang mengikuti kodrat ya, yaitu terjadi pada lansia. Nah, kalau osteoporosis sekunder, ini ada penyebabnya, misalnya penyakit atau bahkan obat-obat yang dipakai pada pengobatan penyakit-penyakit tertentu. Dan ini bisa saja terjadi pada segala umur ya. Banyak contohnya, saya ada pasien anak umur 6 tahun tapi dengan kelainan autoimun, itu dia menderita Idiopathic Thrombocytopenic Purpura atau ITP. Nah, bukan penyakitnya yang menyebabkan dia osteoporosis, tetapi dari pengobatannya, yaitu dari golongan steroid. Sehingga itu yang dikatakan osteoporosis sekunder. Jadi, di sini saya memberikan spektrum bahwa tidak betul bahwa osteoporosis itu terjadi pada orang tua, pada anak-anak pun ada. Meski itu terbilang jarang,” tutur dr. Henry, saat sesi Instagram Live, sebagaimana dipantau HerStory, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Alumnus Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran (FK) Unair ini menuturkan bahwa dalam kasus osteoporosis primer, umum terjadi pada lansia karena adanya gangguan metabolisme sel tulang. Kerja sel penghancur tulang (osteoclast) melebihi kerja sel pembentuk tulang (osteoblast). Dampaknya, lama-kelamaan massa tulang berkurang dan arsitektur tulang yang semula tebal dan padat berubah menjadi tipis dan jarang, dan kondisi ini disebut sebagai tulang keropos.
“Osteoporosis primer ini terjadi secara alami akibat penuaan, disertai menurunnya hormon serta kurangnya asupan kalsium dan vitamin D. Wanita umumnya mengalami osteoporosis lebih cepat dibandingkan pria ini dikarenakan saat mengalami manopouse kadar hormon estrogen di dalam tubuh wanita akan menurun secara drastis, padahal hormon ini berperan dalam merangsang aktivitas sel pembentuk tulang bekerja,” beberPendiri dan Ketua KILO (Komunitas Indonesia Lawan Osteo-Sarcopenia) ini.
dr. Henry yang juga Ketua vitamin D society Indonesia ini juga bilang bahwa risiko seseorang untuk mengidap osteoporosis di masa depan amat bergantung pada kekuatan tulang yang dibentuk pada masa muda.
“Jadi perlu diketahui ya, osteoporosis primer yang bisa diderita lansia, itu asal mulanya atau akarnya pada anak-anak. Itu yang mesti dipegang. Karena begini, memang munculnya pada umur-umur 60-70, tapi sebab-sebabnya dimulai pada umur muda, dari anak-anak,” imbuh dr. Henry.
Dikatakan dr. Henry, di masa pertumbuhan anak-anak, biasanya osteoblast lebih aktif daripada osteoclast. Jadi pembentukan tulang lebih banyak daripada perusakan tulang. Tulang sendiri merupakan living tissue atau jaringan hidup. Jadi kalau pembentukannya lebih banyak, maka dia akan jadi lebih tebal dan lebih besar tulangnya.
“Ingat, bahwa anak-anak itu bertumbuh, tulang bertumbuh jadi lebih tebal, massanya lebih padat, itu adaistilah pick bone mess. Jadi puncak masa tulang itu antara umur 28 atau 30. Setelah itu akan turun. Ibaratnya, tulang itu deposito atau simpanan kita di Bank, itu kita harus nabung dari kecil biar kita punya simpanan yang banyak saat dewasa. Dan ingat, pick bone mess itu memang umur-umur 30. Tapi 80-90 persen dari pick bone mess itu sudah terbentuk umur 18-19 tahun. Jadi bayangkan, kalau mau mengejar tulang atau mendapatkan yang baik, bukan di saat usia tua. Ya memang ketikakena osteoporosis kita bisa melakukan banyak usaha. Dikasih obat, suplemen, dll/ Tapi yang paling penting itu, kita harus menjaga (tulang) dari kecil supaya kita ‘deposito’ kita banyak saat umur tua. Semakin dini kita melakukannya, maka juga akan semakin besar peluang terbebas dari rasa sakit di kemudian hari,” tutur dr. Henry.
Lantas, apa yang harus kita dilakukan saat muda agar tulang kita tetap sehat saat tua?
“Selama ini kita mungkin cuma berikan kalsium, itu sebenarnya kalsium tidak sepenuhnya masuk ke tulang. yang lebih penting adalah vitamin D-nya. Makanya usahanya itu pada saat si ibu itu hamil, itu dia harus diberikan suplementasi vitamin D tinggi sehingga kadar darahnya optimal, sehingga bayinya pas lahir dia punya kadar vitamin D yang tinggi. Itu salah satu usahanya sejak dalam kandungan. Kita harus sudah persiapkan supaya tulang dan sendinya baik. Kalau bicara pertumbuhan pasti kan terkait tulang tulang dan sendi, dan itu berpengaruh kepada semua sistem,” beber dr. Henry.
dr. Henry juga mengatakan, osteoporosis awalnya tidak menimbulkan gejala apa pun sehingga jarang disadari sedari dini. Kondisi ini biasanya baru diketahui saat seseorang mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang. Dengan kata lain, cedera ringan pun bisa menyebabkan patah tulang. Osteoporosis yang terus dibiarkan dapat berujung pada masalah kesehatan jantung, khususnya penyakit jantung koroner.
“Diagnosa osteoporosis itu gak bisa begitu saja. Karena gejalanya sendiri gak khas. Misalnya, kita tahu ada gradasi, pertama yang terjadi osteopenia dulu. Makanya kan dibilangnya silent desease itu osteoporosis. Banyak ibu-ibu yang sudah berumur itu tahu dia osteoporosis waktu udah patah. Makanya kita bilang, wanita menopause periksalah Bone Mineral Densitometry (BMD)-nya. Tapi biasalah, kita ngomong sampai busa-busa juga orang gak bakalan dateng kok. Kalau dia sudah sakit tulangnya, itu sudah berat, BMD-nya misalnya sudah minus 2,5, kalau di kurva itu gambarnya udah merah. Itu pasti udah ada gejala, bahayanya di situ. Jadi lebih baik mencegah ya daripada mengobati. Kalau bisa, pas kurva (BMD)-nya kuning, ya langsung obatin,” tegas dr. Henry.
Kemudian, dr. Henry pun memaparkan soal langkah pencegahan terhadap osteoporosis sekaligus menjaga tulang tetap kuat. Yakni, menjaga asupan nutrisi sehari-hari, mengonsumsi suplemen vitamin D, dan latihan fisik.
“Bukan cuma mengonsumsi suplemen vitamin D saja, tapi menjaga nutrisi dan latihan fisik juga penting. Karena untuk tulang yang baik kita gak cukup perlu vitamin D, kita perlu protein yang cukup, karena bahan dasar sel kita kan protein. Kemudian vitamin D juga. Dan saya kan punya approach yang berbeda, kalsium itu tidak saya berikan ke orang dewasa. Kalsium hanya diberikan ke anak-anak yang masih tumbuh. Dengan catatan dia mesti minum vitamin D. karena dengan vitamin D yang optimal, itu sudah menyerap kalsium dari makanan yang cukup. Jadi kalau vitamin D kita optimal, bisa dikatakan kalsium yang bisa kita serap dengan bantuan vitamin itu sudah 600-800 mg/hari, itu cukup. Karena kalau kita tambahkan lagi kalsium itu nanti kalsiumnya mengendap di pembuluh darah. Jadinya kalsium score tinggi di bagian jantung. Itu nanti menyebabkan penyempitan plak di pembuluh darah jantung, jadi malah bahaya, bukan untung,” papar dr. Henry.
Terkait latihan fisik, dikatakan dr. Henry, olahraga paling tepat untuk penderita osteoporosis adalah strength training atau latihan kekuatan otot. Ini merupakan jenis olahraga yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan dan massa otot, sendi, serta kebugaran tubuh. Selain itu, olahraga ini juga bisa membantu membakar kalori dan menurunkan berat badan.
“Memang pada dasarnya olahraga itu dibagi 2, aerobic dan an-aerobic. Aerobic itu nama lainnya cardio exercise, jadi untuk jantung, bakar lemak. Itu tergantung heart rate, jadi ada batasannya. Itu bisa lari, berenang, sepeda, bisa apapun lah. Tapi itu gak menyebabkan tulang padat, yang bisa menyebabkan tulang padat itu harus ada pressure. Jadi, olahraga yang cocok untuk penderita osteoporosis itu strength training , latihan kekuatan. Latihan beban juga bisa. Tapi gak harus selalu kita pakai beban (alat), kita bisa pakai beban berat badan kita kok. Jaid kalau mau latihan otot kaki, ya kita latihan squat, duduk di kursi, berdiri, begitu aja. Kalau upper body, ya push up. Bisa dilakukan tanpa alat-alat, dan tidak perlu sepertinya,” pungkas dr. Henry.