Menu

Isu Kesetaraan Gender Ikut Dibahas, Begini Kata Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah

11 September 2020 15:15 WIB

Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah (Liputan6/Edited by Herstory)

HerStory, Jakarta —

Beauty, pertemuan luar biasa para Menteri Perburuhan dan Ketenagakerjaan dari Negara Anggota G20 membuat Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menyatakan dukungan Indonesia pada agenda "Memberdayakan Rakyat dan Mewujudkan Peluang Abad 21 untuk Semua" yang diusung oleh Presidensi G20, Kerajaan Arab Saudi. 

Dilansir dari beberapa sumber, ada kesempatan ini, dia pun menyampaikan isu strategis bidang ketenagakerjaan.

Isu-isu strategis tentang ketenagakerjaan ini ialah sebagai berikut:

  1. Mengadaptasi perlindungan sosial untuk mencerminkan pola kerja yang berubah. 
  2. Mempersiapkan kaum muda yang lebih baik untuk transisi dunia kerja. 
  3. Mewujudkan kesetaraan gender di dunia kerja.
  4. Mengeksplorasi penerapan wawasan perilaku dalam rangka merumuskan kebijakan pasar tenaga kerja yang kuat untuk diadopsi ke dalam Deklarasi Menteri Perburuhan dan Tenaga Kerja negara anggota G20.

Ida menjelaskan bahwa ia mengacu pada isu pertama, yaitu perlindungan sosial adalah kunci untuk menavigasi multi-transisi masa depan pekerjaan.

"Kebijakan perlindungan sosial di saat krisis dan kondisi normal, dapat terus diperkuat dengan mendorong dialog sosial untuk menghasilkan skema perlindungan yang terbaik, tepat dan inklusif, " tutur Ida malam tadi, Kamis (10/9/2020).

Menurut Ida, adanya Covid-19 merupakan peluang bagi negara-negara G20 untuk merefleksikan dan mengoptimalkan kebijakan perlindungan sosial bagi pekerja yang sebaiknya terintegrasi dalam mewujudkan perlindungan sosial untuk semua.

Ia pun mengungkapkan bahwa Indonesia menyadari pentingnya peningkatan keterampilan dan daya saing bagi kaum muda. 

Hal ini sebagai upaya untuk membawa kaum muda yang masih berstatus NEET (not in employment, education and/or training) ke pasar tenaga kerja, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan pendapatan. 

Makanya, ini merupakan upaya untuk mempersiapkan generasi muda yang lebih baik dan berkualitas.

Menurut penuturannya, berdasarkan perkiraan, tingkat pengangguran kaum muda dapat mencapai kurang dari 15% pada tahun 2025.

"Untuk itu, Indonesia optimis dalam mencapai komitmen Antalya Target 2025, menurunkan tingkat pengangguran muda hingga 15 persen di tahun 2025," jelas Ida.

Enggak cuma itu, dia juga menyebut Indonesia terus berupaya mengembangkan keterampilan melalui pelatihan kerja dan magang untuk mempersiapkan kaum muda yang lebih baik dalam menghadapi transisi di dunia kerja.

Apalagi di tingkat regional, ASEAN Labour Ministers Meeting periode 2020-2022 yang akan datang, di bawah Ketuaan Indonesia, juga bakal memprioritaskan isu yang bertemakan pemuda, yaitu “Promoting ASEAN Workers for Competitiveness, Resilience and Agility in the Future of Work”.

“Indonesia percaya dengan memajukan kesetaraan gender akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini juga merupakan amanat bersama dalam mencapai Brisbane Goals 2025,” jelas Ida.

Ida juga menyampaikan bahwa Indonesia menyadari pasar tenaga kerja saat ini dipengaruhi banget oleh tren global yang harus diatasi dengan inovasi berbasis bukti untuk membentuk kebijakan yang tepat di tingkat nasional dan internasional.

Ia menjelaskan kalau Deklarasi Menteri Perburuhan dan Tenaga Kerja G20 menekankan upaya untuk terus mengelola dampak pandemi dan bersiap menuju pemulihan pandemi Covid-19 melalui bekerja sama dengan menteri lain dalam kelompok negara anggota G20 untuk mendukung komitmen di berbagai bidang.

Beberapa kerja sama dan komitmen tersebut ialah mempromosikan pertumbuhan ekonomi inklusif, membuka banyak lapangan pekerjaan yang berkelanjutan dan human-centered, menyediakan pekerjaan berkualitas bagi kaum muda dan wanita, serta memberikan akses perlindungan sosial yang memadai untuk semua.

Terakhir, dalam pertemuan ini, para Menteri Perburuhan dan Tenaga Kerja G20 juga mendeklarasikan untuk berkomitmen dalam upaya pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif, dan untuk mempromosikan pekerjaan layak bagi semua pekerja. 

Jadi, dalam rantai pasokan global dengan melanjutkan upaya untuk menghapus pekerja anak, kerja paksa, perdagangan manusia, dan perbudakan modern di dunia kerja.