Belum banyak yang mengetahui penyakit Inflammatory bowel disease (IBD) atau penyakit autoimun yang juga dikenal dengan peradangan usus kronis. Padahal jika penyakit ini tak diobati dengan benar akan mengakibatkan komplikasi hingga kematian.

Namun sayangnya, sampai saat ini kesadaran masyarakat masih rendah terhadap IBD. Hal ini karena gejala umum IBD adalah diare, di mana masyarakat masih sulit membedakan diare biasa dengan diare yang mengarah pada IBD.

IBD merupakan sekelompok penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada usus kecil dan besar, di mana elemen sistem pencernaan diserang oleh sistem kekebalan tubuh sendiri1. IBD ditandai dengan episode peradangan saluran cerna berulang yang disebabkan oleh respon imun yang abnormal terhadap mikroflora usus. Namun, secara klinis IBD sering secara keliru disamakan dengan irritable bowel syndrome (IBS).

"IBD dan IBS adalah dua gangguan pencernaan yang berbeda, meskipun perbedaan keduanya dapat membingungkan banyak orang. Baik IBD maupun IBS menyebabkan sakit perut, kram, dan buang air besar yang mendesak (diare)," ujar Prof. Dr. dr. Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, Dokter Spesialis Penyakit Dalam & Konsultan Gastroenterologi Hepatologi RSCM-FKUI dalam virtual media gathering, Rabu (20/1/2021).

"Namun IBS masih diklasifikasi sebagai gangguan fungsional dan tidak menimbulkan peradangan, sedangkan IBD sudah diklasifikasi sebagai gangguan organik yang disertai dengan kerusakan pada saluran cerna. IBD tentu lebih berbahaya karena dapat menyebabkan peradangan yang merusak dan kerusakan ini bisa bersifat permanen pada usus, bahkan salah satu komplikasinya bisa meningkatkan risiko Kanker Usus Besar,” sambung Prof. Murdani.