Awal bulan Maret ini kasus virus corona di Indonesia telah meroket. Hal itu menyebabkan kepanikan masyarakat luas tentang penyebaran penyakit yang berasal dari Wuhan, Cina ini. Ternyata, ada penelitian baru yang mengklaim bahwa terdapat salah satu golongan yang lebih mudah terjangkit virus corona lho! Eits, jangan panik dulu, simak ulasan berikut ini ya!

Para peneliti dari Rumah Sakit Zhongnan di Universitas Wuhan telah mengungkapkan bahwa orang dengan golongan darah A mungkin lebih rentan terhadap penyakit corona daripada mereka yang memiliki golongan darah O. Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis 2.173 pasien virus corona, termasuk 206 orang yang telah meninggal akibat tertular COVID-19.

Baca Juga: COVID-19 Kian Merebak, Yuk Mengenal Vaksin mRNA-1273 Calon Obat Virus Corona!

Para peneliti mengatakan meski dalam 2.173 orang yang diteliti sebagian besar memiliki golongan darah O, hasil penelitian mengungkapkan bahwa golongan darah A memiliki risiko lebih rentan dengan virus corona sebesar 41% sedangkan golongan darah O hanya 25%. Sementara itu, dari 206 pasien yang meninggal dalam penelitian ini, 41% diantaranya memiliki golongan darah A, sedangkan 25% tipe golongan darah O.

“Golongan darah O dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang tak bergolongan darah O. Sebaliknya, golongan darah A dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok non-A," ungkap para peneliti seperti yang tertuang dalam studi mereka yang diterbitkan di medrxiv.

Berdasarkan temuan itu para peneliti menyarankan bahwa orang dengan golongan darah A mungkin perlu perlindungan diri yang lebih tinggi.

Baca Juga: 14 Mitos Mengenai Virus Corona, Bisa Ditularkan di Iklim Panas dan Lembap hingga Obat Khusus untuk Lawan COVID-19

"Orang-orang dari golongan darah A mungkin perlu memperkuat perlindungan pribadi untuk mengurangi kemungkinan infeksi. Pasien yang terinfeksi Sars-CoV-2 dengan golongan darah A mungkin perlu menerima pengawasan yang lebih waspada dan perawatan yang agresif," tambahnya.

Namun, penting untuk dicatat bahwa ukuran sampel dalam penelitian ini cukup kecil, studi skala yang lebih besar akan diperlukan untuk memverifikasi temuan ini.

Melansir South China Morning Post, Rabu (18/3/2020), Gao Yingdai, seorang peneliti dari State Key Laboratory of Experimental Haematology in Tianjin, mengatakan bahwa hasil penelitian itu tak bisa dijadikan patokan.

"Penelitian mungkin membantu para profesional medis, tetapi warga negara biasa tidak seharusnya menganggap statistik terlalu serius. Jika kamu golongan A, tak perlu panik. Bukan berarti kamu akan terinfeksi 100 persen. Jika kamu golongan O, itu tak berarti kamu juga benar-benar aman. Kamu masih perlu mencuci tangan dan mengikuti pedoman yang dikeluarkan oleh pihak berwenang," tutupnya.

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi klik di sini.