Ferita Lie (Istimewa)
Dalam ruang pengambilan keputusan, Ferita Lie menilai bahwa salah satu kekuatan seorang perempuan ialah sisi humanis, seperti kemampuan mengelola komunikasi, emosi, dan empati yang tinggi. Hal tersebut menjadi modal yang sangat penting dalam memimpin sebuah tim sehingga bisa berjalan selaras dan harmonis.
“Saya rasa salah satu kelebihan seorang perempuan dalam kepemimpinan itu adalah kita memiliki disiplin emosional yang baik. Dalam situasi penuh tekanan, yang membedakan bukan siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang tetap tenang di saat semua orang panik,” pungkas Ferita.
Bersamaan dengan itu, seorang pemimpin perempuan dinilai mampu untuk melakukan pendekatan lead by example sebagai fondasi kepemimpinannya. Pendekatan ini membuat arah kerja tim menjadi lebih jelas dan minim hambatan karena ia tidak hanya memimpin dari atas, tetapi berjalan bersama timnya.
“Saat menghadapi tantangan baru, pendekatan lead by example itu harus saya jalankan karena sebagai leader, kita harus terlibat langsung dalam proses sehingga bisa memberi arahan dan dapat berjalan selaras dengan tim,” imbuhnya lagi.
Sisi humanis lain yang ia terapkan dalam kepemimpinan ialah membangun budaya kerja yang lebih terbuka dan partisipatif. Ia secara aktif mendorong timnya untuk menyampaikan pendapat, bahkan jika itu berarti mengoreksi dirinya.
“Kalau saya salah, kamu (tim) harus berani memberitahu saya. Kalau kamu diam, itu tidak akan baik untuk hasil kerja tim dan juga pencapaian kamu sendiri,” katanya.
Ia juga memahami bahwa tidak semua orang nyaman berbicara dalam forum formal. Maka dari itu, ia mengombinasikan pendekatan formal dan informal.
“Kadang saya panggil kembali satu-satu setelah meeting. Dari situ baru keluar pendapat yang sebenarnya,” ujarnya.
Pendekatan ini perlahan membangun kepercayaan diri tim dan menciptakan komunikasi yang lebih sehat.

Dengan berbagai pengalaman kepemimpinan yang dimiliki, Ferita menekankan pentingnya menyeimbangkan antara ambisi dan realitas kehidupan. Sebab, seberapa pun besarnya potensi dan kesempatan yang ada, itu tidak akan berarti jika tidak diiringi dengan konsistensi.
Terutama bagi perempuan, tak jarang mereka memilih berhenti mengaktualisasi diri dalam karier di masa produktif dengan alasan membangun keluarga. Padahal, peran dalam keluarga dan karier dapat berjalan bersamaan meski membutuhkan penyesuaian yang tak mudah di awal.
“Beberapa talent yang pernah kerja bareng di tim saya itu perempuan, sebagian memilih berhenti bekerja di saat usia mereka itu masih produktif dengan alasan sedang repot mengurus anak. Tapi saya selalu memberi pemahaman bahwa kondisi seperti itu wajar dan hanya sementara karena pada akhirnya saat anak sudah lebih besar, kondisi akan lebih stabil,” terang Ferita.
Ia kemudian menjelaskan bahwa fase tersebut ibarat sedang melakukan perjalanan ke tempat baru yang belum jelas hambatan dan waktu tempuhnya. Terkadang perlu melambat untuk mengisi bahan bakar atau beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Dengan kondisi itu, yang dibutuhkan perempuan bukanlah secara total berhenti produktif, melainkan menyesuaikan ritme dan manajemen diri kembali. Baginya, mengambil jeda bukan masalah, selama arah masih tetap terjaga.
“Saya katakan ‘Boleh kendaraan melambat karena tidak setiap saat kendaraan juga harus ngebut, tapi usahakan untuk tidak meninggalkan kendaraan dan turun di tengah jalan,” tambahnya lagi.
Tak hanya soal karier, lanjutnya, hal itu juga perlu diterapkan dalam hal finansial. Di tengah tren kebebasan finansial, Ferita mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ambisi dan kesiapan diri serta realitas finansial yang dimiliki.
Menurut Ferita, pengalaman adalah hal yang tidak bisa digantikan sehingga ia mengajak generasi muda untuk lebih realistis sebelum memulai langkah menuju kebebasan finansial. Sebab, keputusan bebas finansial yang terlalu dini dan tanpa pengalaman bukan hal yang bijaksana karena belum memiliki fondasi yang kuat saat menghadapi masalah yang timbul.
“Pada saat orang menyiapkan masa depan untuk mengejar financial freedom, jika terlalu dini, itu fondasinya masih lemah. Perkuat dulu pengalaman dengan bekerja untuk orang lain dan perhatikan kesiapan finansialnya dengan baik,” lanjut Ferita.
Begitu pula dengan seseorang yang lebih senior, jika ingin mencapai kebebasan finansial jangan dilakukan saat usia produktif sudah benar-benar berakhir. Menurutnya hal tersebut juga kurang bijak karena akan banyak menimbulkan kekhawatiran yang akhirnya mempengaruhi kepercayaan diri saat pengambilan keputusan.
“Biasanya kalau usia produktif sudah berakhir atau sudah pensiun, seseorang cenderung punya ketakutan, aduh nanti bisa sukses tidak ya? Kalau gagal, ini uang saya terakhir. Setelah ini bagaimana karena tidak bisa punya kesempatan lagi,” tegasnya lagi.
Dan yang tidak kalah penting adalah jangan membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain yang sering kali tidak sebanding karena kita tidak mengetahui proses yang sebenarnya harus dilalui oleh orang tersebut. Pada akhirnya, peraih gelar International Executive Master of Management dari Universitas Pelita Harapan serta pemilik berbagai sertifikasi profesional di bidang keuangan dan manajemen risiko ini menekankan pentingnya untuk fokus pada proses diri masing-masing tanpa terpengaruh oleh pencapaian orang lain. Juga selalu terapkan mindset bahwa setiap hal yang dapat dicapai oleh orang lain, jika mereka bisa, kita juga pasti bisa, selalu mau belajar dan jangan malu mengakui jika belum tahu, dengan demikian orang lain dapat terbuka untuk memberikan pengetahuan kepada kita karena menghargai usaha kita yang sedang belajar.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.