Menu

Kanker Serviks Masih Jadi Momok Menakutkan Bagi Wanita, Bumil Juga Bisa Kena! Kenali Bahayanya Moms

Riana Agustian
20 September 2021 16:05 WIB
Kanker Serviks Masih Jadi Momok Menakutkan Bagi Wanita, Bumil Juga Bisa Kena! Kenali Bahayanya Moms

Ilustrasi kanker serviks (Freepik/Edited By HerStory)

Menurut dr. Yusuf, kebanyakan penderita kanker serviks tak mengalami gejala signifikan, namun biasanya wanita dengan kanker serviks datang dengan keluhan nyeri panggul, pendarahan, pendarahan pasca-aktivitas seksual, dan keputihan.

"Dengan kondisi keluhan seperti ini, biasanya pasien datang dengan stadium yang sudah lanjut," ujar dr. Yusuf.

dr. Yusuf menjelaskan, penyebab mayoritas kasus kanker serviks adalah virus human papilloma virus (HPV). Adapun, HPV adalah virus yang ditularkan melalui hubungan seks, terlebih jika hubungan seksnya dilakukan dengan pasangan yang berganti-ganti. Seseoranhg bisa terkena HPV dari seks anal, oral atau vaginal.

Namun kata dia, kanker serviks sebenarnya dapat dideteksi secara dini. Dan, semakin dini kamu menemukan kanker ini, maka akan dapat memberikan keberhasilan terapi yang lebih baik.

“Meski kasusnya luar biasa, kanker serviks ini paling gampang kita cegah. Karena kita tahu penyebabnya. Yaitu virus humanpapilloma virus (HPV). Gimana biar gak terkena? Pertama, bilangin jangan nakal-nakal gitu si bapaknya, jadi gak bawa virus jahat ke istinya. Itu dari sisi si suami. Nah lalu apa yang bisa dilakukan pihak si isri, karena mereka kan gak bisa memastikan pasangannya ‘bersih’. Yang bisa mereka lakukan adalah kontrol ke dokter, bagaimana caranya? Ada 3 cara yang bisa dikerjakan, cara itu saya sebut ‘rules of 3’. Pertama, vaksin HVP. Itu penting sekali. Kedua, lakukan screening salah satunya adalah pap smear 3 tahun sekali. Dan yang ketiga adalah pemeriksaan SVP DNA-nya, jadi kalau misalkan ini dikerjakan semua, maka akan terhindar dari kanker serviks almost 97 persen,” tegasnya.

Dikatakan dr. Yusuf, kanker serviks yang dialami di tengah kehamilan memang bukan kasus yang mudah, baik dari sisi dokter yang menangani maupun ibu hamil yang menjalaninya. Karena itu, kondisi ini mengharuskan pemantauan secara intensif dan menyeluruh sepanjang kehamilan agar ibu mendapatkan pengobatan yang tepat, serta janin dapat berkembang dan lahir dengan selamat.

“Untuk penanganannya sendiri kita sebagai dokter akan menyerahkannya kembali kepada pasien. Kalau kondisi tersebut ada di stadium awal, kita akan melihat dari evaluasi usia kehamilannya. Kalau usia kehamilan awal, mungkin kita akan approach pasien memberikan edukasi, risk and benefit kalau misalkan kita delay penanganan setelah persalinan. Mungkin nanti pasien akan punya pertimbangan-pertimbangan sendiri. Namun kita akan memberikan opsi-opsi itu dengan risiko dan manfaatnya. Terkait dengan survival, terkait dengan masa residifnya (masa yang kambuh lagi setelah dinyatakan sembuh) berapa lama, terkait dengan survival janinnya ketika kita lahirkan. Jadi dengan memberikan opsi-opsi itu tadi pasien mungkin akan punya referensi untuk melakukan atau mendesain apa yang akan perlu diambil,” jelas dr. Yusuf.

Halaman: