Menu

Kisah Sukses Anissa Sharmanti, Country Director Crayon Indonesia: Bermula dari Gak Sengaja Jadi Luar Biasa

Riana Agustian
26 Oktober 2021 07:33 WIB
Kisah Sukses Anissa Sharmanti, Country Director Crayon Indonesia: Bermula dari Gak Sengaja Jadi Luar Biasa

Anissa Sharmanti, Country Director Crayon Indonesia (Istimewa/Edited By HerStory)

Terkait label dunia IT yang identik lahan pria, tak lantas membuat Anissa terbebani. Sejak  bekerja di Microsoft hingga kini di Crayon Indonesia, Anissa mengaku tak sedikit pun mengalami diskriminasi gender, baik dalam hal pemberian kesempatan untuk pengembangan karir atau capability maupun dalam pengakuan terhadap achievement.

“Jadi memang untuk wanita itu, kita sebenarnya bisa dibilang punya potensi atau skill yang sama dengan pria, gak ada gender yang spesifik, ini buat pria atau ini buat wanita. Kalau buat saya memang skill itu adalah sesuatu yang bisa di-developed gitu, saya sangat yakin, kita bisa belajar dan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan bisa men-developed skill-skill kita sendiri,” tutur Anissa.

Dari pengalaman bekerja di dunia IT selama kurang lebih 20 tahun, dan berinteraksi dengan banyak orang, Anissa mulai memahami bahwa tak ada perbedaan yang fundamental antara pria dan wanita dalam hal skill.

“Saya sebenarnya selalu percaya 3 hal ya, yang pertama itu kita harus punya rasa keingintahuan yang besar, jadi curiosity yang besar, penasaran yang besar, dari ini akan nge-lead kita untuk terus pengen belajar. Nah dari kita pengen belajar, kita penasaran lagi, kita terus jadi pengen belajar lagi. Jadi continuous learning. Di situ kita masuk ke, abis ini apa ya, whats next, makanya saya bilangnya ‘focus on whats next’, itu kan berangkat dari curiosity tadi. Itu yang membuat kita gak berenti belajar. Sama yang terakhir adalah dimanapun kita berada, impact apa sih yang bisa dikasih ke sekitar gitu. Hal-hal ini menurut saya jadi gak ada limit antara gender ya, baik pria atau wanita, atau bahkan suku tertentu, maupun latar belakang tertentu. Karena ini sifatnya sesuatu yang bisa dipelajari,” sambung Anissa.

Lebih lanjut, terkait dengan kesetraan gender, Anissa menilai, produktivitas wanita di dunia IT ini sendiri tak kalah dengan pria. Di Crayon sendiri khususnya, dia melihat bahwa peran dari pria dan wanita cukup saling menyeimbangkan satu sama lain. Anissa pun lantas bersyukur dirinya berada di tempat yang bisa melakukan advokasi, yang bisa bersuara, yang bisa mengambil bagian, dan bisa memberikan kontribusi.

“Nah hal-hal ini yang akhirnya mengeliminasi diskriminasi tadi. Karena akhirnya kan orang fokus ke skill kita sendiri, kemudian ke kontribusi apa yang bisa diberikan ke perusahaan, dan kita selalu fokus merangkul ke orang-orang untuk ‘hey kita bisa nih sama-sama untuk maju, kita bisa sama-sama berkembang dan men-developed skill-skill kita’, artinya hal-hal seperti itu yang menurut saya jadi hilang ya istilah diskriminasi itu. Karena semua akhirnya berangkat dari value atau uniqueness masing-masing individu. Dan sekarang di Crayon ini, saya melihat hal seperti itu sangat penting dimana di sini istilah diversity dan inclusion itu memang sangat di-kedepankan. Jadi banyak sekali di manajemen top level itu dia adalah wanita,” papar Anissa.

Halaman: