Menu

Sempat ‘Ditegur’ Orang Tua, Peni Ahmadi Buktikan Sukses Jadi Ilmuwan Wanita

Riana Agustian
15 November 2021 13:05 WIB
Sempat ‘Ditegur’ Orang Tua, Peni Ahmadi Buktikan Sukses Jadi Ilmuwan Wanita

Peni Ahmadi, Ph.D, jadi salah satu dari 4 empat wanita peneliti Indonesia yang mendapatkan award L'ORÉAL-UNESCO FOR WOMEN IN SCIENCE NATIONAL FELLOWSHIP 2021. (Riana/HerStory)

Ya, Peni meneliti tentang senyawa bioaktif dari invertebrata laut indonesia yang berpotensi sebagai obat ampuh penyembuhan kanker payudara. Penelitian ini terdorong oleh rasa empati Peni kepada teman terdekatnya yang mengalami kanker payudara, sehingga ia selalu bersemangat untuk dapat menemukan obat ampuh yang dapat menyembuhkan kanker payudara.

Dengan pengalaman yang ia miliki sebagai seorang ilmuwan di Jepang dan ilmu kelautan yang ia dapatkan semasa mengenyam pendidikan, Peni berusaha untuk mencari obat anti kanker dari biota laut yang berada di perairan Indonesia.

“Saya percaya bahwa perairan luas Indonesia yang indah ini menyimpan manfaat luar biasa yang dapat berguna bagi kehidupan orang banyak. Karenanya, lewat penelitian ini saya ingin menggali lebih dalam lagi potensi laut Indonesia untuk menemukan senyawa anti kanker yang diisolasi dari pesisir Indonesia yang unik dan ampuh, khususnya untuk mengobati kanker payudara,” imbuh Peny.

Melalui penelitian yang dilakukannya juga, Peni berharap dapat menciptakan terapi yang dapat membantu menyembuhkan kanker payudara tanpa memberikan efek samping yang berbahaya bagi pasien.

Lebih lanjut, Peni pun mengungkapkan soal suka duka dan tantangannya sebagai seorang peneliti wanita. Kata dia, sebagai peneliti, dia harus berpikir mencari ide-ide baru seraya mengerjakan tugas sebagai seorang ibu dan istri, dan harus pintar-pintar membagi waktu antara penelitian dan keluarga.

“Memang ada challange tersendiri bagi peneliti, apalagi peneliti wanita, apalagi sudah berkeluarga dan menjadi ibu. Untuk bisa menyeimbangkan antara karier dan keluarga itu benar-benar tantangan tersendiri. Kita kan ngerjain penelitian juga, ngurusin anak dan suami juga, jadi kita tuh melakukan 2 sisi yang dilakukan wanita yang juga dilakukan para pria. Kalau peneliti pria itu kan gak melakukan ‘pekerjaan rumah’. Tapi biar gimana pun, kita sebagai wanita harus mengimbangi segala kepentingan keluarga. Selain itu tantangan lainnya mungkin kita juga harus berkompetisi dengan para pria dalam mencari dana penelitian, itu kan biasanya gak mandang gender,” imbuh Peni kepada HerStory, seraya tertawa.

“Soal dukanya, bagi saya mungkin kalau di bidang saya karena ada diving-nya, kita harus merangkai diving set sendiri. Tapi di satu sisi ada kepuasan kita juga bisa lho menyeting diving set sendiri, dan bikin kita confident. Dukanya juga mungkin ya kita bawa alat-alat diving sendiri, berat kan ya, jadi kaya nge-gym ya. Tapi biar bagaimana pun kita harus mandiri,” sambung Peni.

Lebih lanjut, Peni pun mengaku senang dapat bekerja sebagai seorang peneliti, karena karya yang dia kerjakan dapat bermanfaat bagi orang banyak. Ia pun kemudian berpesan bagi seluruh wanita muda yang ingin menjadi peneliti, agar mereka tak mudah menyerah dan harus lebih lebih kompetitif lagi dengan pria.

“Kita sebagai wanita harus terpacu dan harus lebih kompetitif lagi dengan pria. Dan biasanya ada kepuasan tersendiri saat kita ada meraih pencapaian yang diinginkan, dimana kita bisa setidaknya tak ketinggalan dari pria ataupun kita bisa sejajar dengan pria,” pungkas Lenny.

Nah Beauty, semoga jejak karir Peni Ahmadi, Ph.D ini bisa menginspirasimu untuk sukses ya!

Halaman: