Menu

Pernah Merasa Anxiety, Bahaya Gak Ya? Cek Penjelasan Psikolog Ini

Riana Agustian
25 November 2021 18:17 WIB
Pernah Merasa Anxiety, Bahaya Gak Ya? Cek Penjelasan Psikolog Ini

Psikolog Klinis, Tara de Thouars, (Instagram/@tara_dethouars)

Kenapa sistem percenaan bisa shut down? karena laper nggak dibutuhin untuk survival. Gak mungkin pada saat kita lagi butuh survival, di saat yang bersamaan kita laper, nggak mungkin. Makanya kalau kita lagi cemas biasanya asam lambung naik semua tuh. Atau kalau cemasnya udah panik banget pengen muntah, mulut juga jadi kering karena sistem pencernaan shut down. Selain itu, sistem imun juga akan shut down, makanya penyakit bakal muncul semua, otak kita juga semakin waspada, dan pikiran negatif kita akan semakin kencang karena kita harus memprediksi atau mengantisipasi,” imbuh Tara.

Tara pun mengungkapkan, kenapa survival mode ini dibutuhkan oleh tubuh kita saat kita terancam, karena ini akan membuat kita bereaksi menjadi 3 reaksi.

“Pada saat kita berada dalam survival mode, kita akan terdorong untuk melakukan tiga reaksi yang tujuannya adalah melindungi diri kita untuk memproteksi diri kita. Antara kita bisa jadi seperti Macan. Macan itu kan dia tahu dia punya cakar, dia punya taring, macan itu kalau lebih dalam keadaan cemas yang tinggi banget yang dilakukan dia pasti akan melawan. Macan ketikaada musuh, musuhnya akan diserang. Kalau dalam keseharian kita jadi macan, maka kita akan jadi marah-marah, akan agresif, defensive, akan jadi nyerang orang, nyalahin orang, itu contohnya. Itu adalah reaksi survival mode,” jelas tara.

Selain ‘menjadi’ macan, lanjut Tara, kita juga akan jadi seperti kelinci. Dimana, kelinci itu gak punya taring, gak punya cakar, tapi dia paham dia bisa meloncat jauh.

“Itu yang kelinci lakukan pada saat dalam keadaan tak menyenangkan atau saat cemas. Jadi dia akan menghindari situasinya. Contohnya pada kita misalnya kita jadi menghindari pekerjaan, atau seseorang yang bikin dia cemas, itu contohnya kalau kita jadi kelinci,” kata Tara.

Selain itu, sambung Tara, kita juga bisa juga seperti kura-kura. Dimana, kura-kura itu gak punya taring, gak punya cakar, gak bisa ngelawan, tapi dia juga nggak bisa kabur karena dia membawa tempurung.

“Jadi biasanya yang kura-kura lakukan dalam keadaan cemas tinggi dia kan diem aja, masuk ke dalam temkurung, baru kalau situasinya udah aman, dia. Ya kalau kalau di manusia kita sebutnya reaksi freeze. Contohnya seperti kita biasanya kita akan nggak ngerasain apa-apa ini, jadi blank. Mau kabur gak bisa, ngelawan juga gak bisa,” imbuh Tara.

Dikatakan Tara, kesemua reaksi yang dianalogikan seperti macan, kelinci, dan kura-kura merupakan reaksi yang ekstrem, bukan ideal. Reaksi itu akan muncul ketika kita dalam keadaaan survival mode. Dalam kondisi tertentu, kata dia, kita boleh bereaksi seperti ini.

“Jadi ketika kita sedang dalam keadaan atau berpikir negatif, maka di dalam otak kita, kita bisa mengolahnya lewat dua cara. Ada jalur cepat, ada jalur lambat. Jalur cepat itu berarti kita akan mengaktifkan otak berwarna merah. Otak berwarna merah ini adalah tempatnya tadi alarm, yang akan menyalakan survival mode.Begitu si alarm ini nyala, tubuh kita langsung berubah jadi survival mode, kita langsung akan reaktif, mau fight, flight, atau freeze,” papar Tara.

Halaman: