Menu

Pernah Merasa Anxiety, Bahaya Gak Ya? Cek Penjelasan Psikolog Ini

Riana Agustian
25 November 2021 18:17 WIB
Pernah Merasa Anxiety, Bahaya Gak Ya? Cek Penjelasan Psikolog Ini

Psikolog Klinis, Tara de Thouars, (Instagram/@tara_dethouars)

Menurut Tara, jika kita mau mengolah situasi dan pikiran negatif kita melalui jalur yang lambat, maka kita akan menggunakan otak berwarna biru. Dan otak biru ini, kata dia, tempatnya learning brain.

Jadi otak warna biru ini adalah tempatnya kita menyimpan data, informasi, dan memori-memori yang membuat kita bisa menganalisa sebuah masalah. Jadi kalau otak warna merah itu pusat emosi, otak warna biru itu pusatnya rasional, tempatnya kita belajar. Maka disebutnya learning brain. Nah kalau kita menggunakan learning brain pada saat pada situasi yang tidak menyenangkan atau yang mencemaskan, maka kita proses dulu nih. Ini aku harus cemas gak, situasinya seperti apa, faktanya bagaimana. Ini kalau kita menggunakan learning brain, kita bisa merespon dengan baik,” jelasnya.

Nah permasalahannya, kata Tara, otak merah dan biru tak mungkin bisa aktif bersamaan. Jika otak merah kita sedang aktif, lanjutnya, otak biru pasti nonaktif. Yang bisa kita lakukan adalah menjembataninya terlebih dulu.

“Ketika otak merah aktif banget perlu dijembatani dulu dengan cara briefing, supaya kita bisa mengakses otak biru. Karena kalau otak birunya gak bisa diakses, kita nggak bisa berpikir dengan kreatif dengan optimal, dengan objektif, gak bisa. Harus dijembatani supaya otak merahnya nonaktif dulu. Sekedar tarik nafas yang dalam, buang perlahan-lahan, lakukan ini paling tidak 3 sampai 5 menit. Tetapi dengan bener-bener otaknya kita fokusin ke nafas ya, bukan sambil bernafas kita sambal mikiran masalah. Seperti ini malah kita gak akan turun cemasnya. Take your self down, supaya kita bisa terus chill. Dengan kita lebih chill, baru kita bisa mengakses otak warna biru ini untuk bisa berpikir dengan lebih baik. Itu sebabnya dalam keadaan emosi tinggi kita nggak akan bisa menggunakan otak biru. Padahal otak biru itu adalah tempatnya data, informasi, memori, yang bisa membuat kita berkreasi seluas-luasnya. Jadi bisa dibayangkan, ketika kita tidak bisa mengakses otak warna biru, maka kemampuan kita akan jadi sangat terbatas,” imbuh Tara.

Lalu, apa yang terjadi saat kita tidak bisa mengakses otak warna biru? Yang pertama, kata Tara, kita akan jadi bereaksi berlebihan, antara fight, flight atau freeze.

“Tiba-tiba kita bisa marah-marah atau tiba-tiba malah jadi mematung. Terus bisa menghambat proses berpikir kita, karena otak birunya tidak aktif kita nggak bisa mengakses segala informasi yang kita punya di otak kita, sehingga kreativitas kita jadi ke-block. Nggak bisa mikir, nggak bisa punya ide, nggak bisa membuat keputusan dan itu akan mengacaukan keseimbangan tubuh kita. Dan yang terakhir itu akan membuat kita merasa kita berada bukan di area comport zone. Karena saat kita dalam keadaan cemas, begitu otak merah itu aktif, otak itu akan menginstruksikan kita untuk mencari aman supaya kita bisa survive. Ini akhirnya bikin oang jadi stuck di zona nyaman, dan bikin dia gak berkembang dan gak bisa mengoptimalisasikan potensinya. Karena otak kita ini selalu memprediksi bahaya,tuntas Tara.

Halaman: