Beauty, ada kabar mengejutkan! Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan bahwa tes antibodi yang digunakan pasien Covid-19 tak akurat. CDC mengatakan keraguannya tersebut dalam panduan baru yang diunggah dalam situs resminya.

"Tes antibodi, sering disebut tes serologis, mencari bukti respon imun terhadap infeksi. Antibodi pada beberapa orang dapat dideteksi dalam minggu pertama terinfeksi," kata CDC melansir laman CNN (3/6/2020).

Baca Juga: Bisa Deteksi Virus Corona Dengan Cepat! Begini Proses Penggunaan Rapid Test di Indonesia

Menurut CDC, tes antibodi tidak cukup akurat dijadikan patokan pemerintah mana pun dalam keputusan atau kebijakan penting, seperti mengembalikan aktivitas sekolah atau kerja.

"Hasil tes serologis tidak boleh digunakan untuk membuat keputusan dalam pengendalian COVID-19. Hasil tes serologis tidak boleh digunakan untuk membuat keputusan tentang mengizinkan orang ke tempat kerja, sekolah atau asrama," jelas CDC.

Seperti diketahui bahwa tes antibodi kerap kali menunjukkan hasil palsu, misalnya saat tes antibodi hasilnya negatif, namun saat menjalani tes swab ternyata positif terinfeksi COVID-19. Berdasarkan pedoman baru yang dikeluarkan CDC, para ahli kesehatan kesehatan atau penyedia layanan kesehatan perlu melakukan tes antibodi sebanyak dua kali untuk memberikan hasil yang paling akurat.

Baca Juga: Katanya, Kamu Bisa Terinfeksi Virus Corona Lagi Setelah Enam Bulan, Benarkah?

"Di sebagian besar negara, termasuk daerah yang sangat terkena dampak, prevalensi antibodi SARS-CoV-2 diperkirakan rendah, mulai dari kurang dari 5% hingga 25%, sehingga pengujian pada titik ini mungkin menghasilkan relatif lebih banyak hasil positif palsu (false positive) dan lebih sedikit hasil negatif palsu," kata CDC.

Semakin tinggi sensitivitas, semakin sedikit negatif palsu yang akan diberikan tes. Semakin tinggi spesifisitas, semakin sedikit hasil positif palsu.