Meskipun ada laporan bahwa klorokuin berbahaya untuk digunakan sebagai obat pasien COVID-19. Namun, beberapa ahli percaya bahwa klorokuin bisa efektif memulihkan pasien COVID-19. Mereka mengatakan bahwa obat itu mungkin tidak berfungsi sebagai pengobatan corona tetapi memiliki potensi untuk mendukung pencegahan infeksi.

Ada lebih dari 48 percobaan mengenai klorokuin yang sedang berlangsung di seluruh dunia. Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal sebelumnya mengklaim bahwa obat itu dapat meningkatkan risiko kematian pasien COVID-19. Namun, para ahli mengumumkan dalam seminggu terakhir bahwa mereka menarik kembali jurnal tersebut.

Baca Juga: Berisiko Fatal! WHO Imbau Pemerintah RI Hentikan Obat Klorokuin untuk Obati Pasien Corona

Selain itu, pihak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian mendorong komunitas medis untuk melanjutkan studi klorokuin yang berfokus pada penggunaan obat untuk melawan virus corona. Sampai saat ini, 17 percobaan sedang menguji apakah klorokuin dapat membantu mencegah infeksi corona.

Studi-studi yang menganalisis peran pencegahan obat melibatkan para peneliti dari Duke University Medical Center, ProHEALTH dan UnitedHealth Group, NYU Langone Health di New York dan Hackensack Meridian Health Corporation di New Jersey.

Untuk diketahui, klorokuin telah digunakan selama beberapa dekade untuk membantu mengobati gangguan autoimun dan mencegah malaria. Obat tersebut menjadi populer di awal tahun 2020 ketika dianggap bisa membantu meningkatkan kondisi orang yang terinfeksi COVID-19.

Baca Juga: WHO Kembali Lanjutkan Studi Klorokuin, Apa Alasannya?

Namun, klorokui juga dikenal memiliki efek samping, termasuk kelemahan otot dan aritmia jantung. Hal ini membuat beberapa ahli mempertanyakan penggunaan obat untuk pasien corona yang sudah berisiko mengalami komplikasi serius.

Tetapi bagi Michael Belmont, peneliti utama percobaan klorokuin dan direktur medis di NYU Langone Orthopaedic Hospital, obat ini dapat berperan dalam perang melawan pandemi COVID-19. Dia telah menggunakan obat ini pada pasien rheumatoid arthritis dan lupus dalam 35 tahun terakhir. Percobaan hydroxychloroquine yang sedang berlangsung untuk profilaksis pra pajanan di NYU Langone Health diperkirakan akan mengeluarkan hasil pada bulan September.

"Dosis rendah klorokuin berpotensi dapat mengurangi terjadinya kasus COVID-19 yang bergejala atau setidaknya mencegah gejala serius yang memerlukan rawat inap, perawatan intensif atau intubasi," kata Belmont melansir Medical Daily (8/6/2020).