Ilustrasi USG kehamilan. (Unsplash/Kelly Sikkema)
Gak cuma itu, sambung Inez, sebelum merencanakan kehamilan, pasangan suami istri juga perlu mengetahui terkait perubahan-perubahan apa yang diekspetasikan saat menjalani kehamilan dan setelah kelahiran.
“Karena di sini pasangan itu biasanya menjalani perubahan dan akan lebih mudah dan tidak terlalu berisiko ketika mereka sudah memiliki pemahaman yang baik terkait ekspektasinya,” imbuhnya.
Yang tak kalah penting, pasangan suami istri juga harus paham terkait kemampuan komunikasi dan penyelesaian konflik. Karena sekali lagi, kata Inez, merencanakan keluarga itu sangat membutuhkan kerjasama sebagai tim.
“Sebagian mungkin perjalanannya ada hal-hal yang bisa menimbulkan konflik-konflik itu tidak apa-apa, tetapi yang penting bisa diselesaikan secara sehat bersama-sama,” ujarnya.
Dan yang terkahir, kata Inez, pasangan suami istri juga harus mengerti tentang manajemen ekspektasi.
“Artinya adalah bagaimana kita akan membicarakan terkait perencanaan ya, tapi bagaimana kalau misalkan yang terjadi kenyataannya tidak sesuai dengan rencananya. Misalnya apa yang akan dilakukan, bagaimana pas bisa saling mendukung satu sama lain, misalnya rencana punya anak satu tahun lagi 2 tahun lagi tapi kenyataannya belum dapat, nah itu bagaimana pasangan ini akan menyikapi. Nah di situ kemampuan dan kedewasaan si pasangan ini diuji, tetapi tidak perlu khawatir karena dengan mempersiapkan diri secara psiologis itu semua bisa diantisipasi,” pungkas Inez.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.