Para pembicara dan peserta webinar Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day atau WKD) yang mengangkat tema ‘Kidney Health for All: Bridge the Knowledge gap to Better Kidney care”, Rabu (9/3/2022). (Riana/HerStory)
Kemudian, Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr. Aida Lydia, PhD., SpPD, K-GH menyatakan, sekitar sepertiga pasien dengan PGK belum mengetahui benar mengenai penyakitnya, progresifitas/perjalanan penyakitnya serta modalitas terapi yang ada bila kemudian mengalami gagal ginjal.
“Pada awal perjalanan penyakit PGK umumnya tidak ada gejala, berbagai keluhan baru dirasakan bila penyakit sudah lanjut. Kemungkinan kurangnya pengetahuan mengenai kesehatan ginjal menjadi salah satu penyebab kenapa pada umumnya pasien sering terlambat berobat dan sering datang dalam kondisi yang sudah lanjut. Gangguan ginjal dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, diagnosis dini dan tatalaksana yang optimal agar pasien tidak sampai mengalami gagal ginjal,” papar dr. Aida.
dr. Aida menuturkan, kesenjangan pengetahuan di tengah masyarakat merupakan momok di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
“Situasi ini turut berdampak pada semakin meningkatnya angka kejadian PGK dan rendahnya kualitas hidup pasien dengan PGK. Oleh karena itu, literasi kesehatan pada semua kalangan menjadi kunci yang dapat meningkatkan kewaspadaan kesehatan ginjal dan keberhasilan program kesehatan pemerintah. Literasi kesehatan didefinisikan sebagai kemampuan seorang individu dalam memperoleh atau mengakses, memahami, serta menggunakan informasi kesehatan tersebut untuk mengambil keputusan dan tindakan medis, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain,” lanjutnya.
Ia memaparkan, pada saat ini literasi kesehatan masyarakat umum kita bahkan dikalangan pasien PGK sendiri masih tergolong rendah. Masih ada masyarakat yang belum mengetahui apa itu organ ginjal dan fungsinya. Terdapat studi yang menunjukkan bahwa 90% penyandang PGK tidak menyadari tentang penyakit yang diderita.
Hal ini menunjukkan minimnyainformasi kesehatan dikalangan masyarakat. Secara umum masyarakat perlu diinformasikan mengenai faktor risiko PGK, langkah pencegahan, deteksi dini, nilai laboratorium yang perlu dipantau dan apa maknanya, dampak jangka panjang apa saja yang akan dialami, serta strategi pengobatan apa yang akan dijalani. Informasi-informasi ini bersifat sangat spesifik untuk setiap pasien yang hendaknya dipahami oleh pasien dan keluarga.
“Di samping itu, masih banyak misinformasi di kalangan masyarakat kita yang dalam jangka panjang merugikan kesehatannya. Misinformasi adalah kondisi di mana masyarakat atau pasien mempercayai informasi yang keliru dan menjadikan informasi tersebut sebagai dasar dalam menentukan langkah pengobatan dan gaya hidup ke depannya. Sebagai contoh, masih ada yang berpendapat tidak usah minum obat hipertensi atau obat diabetes karena obat kimia dapat merusak ginjal. Sebenarnya, yang merusak ginjal bukan obatnya tetapi penyakit hipertensi dan diabetes itu sendiri,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa tenaga kesehatan memiliki peranan yang penting dalam mengedukasi pasien. Edukasi harus bersifat sedini mungkin dan disesuaikan dengan kebutuhan individual pasien. Edukasi hendaknya dapat terlaksana dengan baik pada semua tingkat layanan kesehatan.
Di samping itu pasien dan keluarga mesti diberdayakan dan di dorong untuk secara pro-aktif memperkaya pengetahuannya dan literasi kesehatannya sendiri melalui sumber yang dapat dipercaya sehingga dapat berperan aktif dalam menjaga kesehatannya dan keluarganya.
“PERNEFRI selaku organisasi perhimpunan dokter yang berkecimpung dalam layanan ginjal- hipertensi, menyelenggarakan rangkaian acara WKD 2022 sebagai bentuk komitmen dan upaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan pasien mengenai PGK dan upaya pencegahannya,” imbuhnya.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel: