Meski baru-baru ini terdengar, nama menstrual cup sudah cukup menarik perhatian. Produk menstrual cup hadir di Indonesia memang masih terbilang baru. Hal itu menjadi perdebatan, khususnya di kalangan wanita. Semua dikarenakan produk feminin ini digunakan sebagai penampung darah menstruasi, namun penggunaannya harus dimasukkan ke dalam vagina.

Keberadaan menstrual cup dianggap sebagai alternatif pembalut yang penggunaannya sekaligus jadi bagian dari pengurangan sampah. Banyak influencer yang mengajak para wanita untuk menggunakan menstrual cup sebagai pilihan lain yang lebih murah serta dikatakan dapat mengurangi rasa nyeri saat datang bulan lho!

Dengan menguaknya pro dan kontra dari produk menstrual cup. Sebenarnya gimana sih tanggapan wanita dengan penggunaan produk ini? Apakah benar-benar efektif untuk mengurangi sampah?

Baca Juga: Menuai Kontroversi, Ini Kata Wanita Soal Penggunaan Menstrual Cup

Redaksi HerStory mewawancari beberapa mahasiswa jurusan Psikologi di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA). Salah satunya bernama Tara Diva (20), ia mengatakan bahwa penggunaan menstrual cup mungkin bisa menjaga lingkungan tetapi ia masih memilih untuk menggunakan pembalut karena rasa nyamannya.

"Mungkin buat saat ini pakai pembalut karena belum mencoba pakai menstrual cup. Kalau dibilang ramah sih iya, cuma rada risih aja kalo bentuknya kayak gitu dan harus dimasukkan ke dalam vagina," tuturnya.

Ia juga menganut keyakinan bahwa menghindari penggunaan menstrual cup saat belum melakukan hubungan seksual.

"Kalau aku pribadi sih kalau belum nikah mah jangan dulu gunain itu (menstrual cup). Nanti aja tunggu nikah," tambahnya.

Selain Tara, ada juga rekannya yang bernama Kenti Juniar. Ia juga sependapat dengan Tara. Menurutnya saat ini masih nyaman menggunakan pembalut.

" Aku memilih pembalut karena namanya darah kotor mending pakai sekali buang. Kalau menstrual cup kan dicuci terus belum tentu kan benar-benar bersih kalau dilihat mata telanjang mungkin bersih tapi enggak tau kalau ternyata masih ada yang gimana-gimana gitunya. Selain itu menstrual cup juga ribet, enggak nyaman," katanya.

Meski lebih memilih pembalut, Kenti menganggap bahwa penggunaan menstrual cup bisa mengurangi sampah. Hal itu disebabkan produk menstrual cup bisa digunakan dengan jangka waktu yang lama.

"Ramah lingkunganĀ sih iya karena katanya bisa dipaka lagi bahkan sampai berbulan-bulan jadi enggak banyak-banyakin sampah pembalut sih," tambahnya.

Baca Juga: Buat Pemula, Intip Cara Berikut untuk Menggunakan Menstrual Cup dengan Benar

Sependapat dengan rekan sebelumnya, mahasiswa bernama Thya Azhari. Ia merasa bahwa pembalut masih jadi pilihan saat menstruasi datang. Hal itu disebabkan karena sudah merasa nyaman saat menggunakan pembalut.
"Aku pilih pembalut karena merasa lebih aman. Meskipun dirasa menstrual cup lebih ramah tapi kalau bahaya ya buat apa? Sebenarnya terserah ya mau pakai gituan (menstrual cup) atau enggak, itu hak masing-masing orang. Tapi menurut saya enggak usah membahayakan diri sendiri cuma karena lebih 'ramah lingkungan'. Sehat itu mahal," tambahnya.
Dengan pernyataan di atas, kalau Beauty lebih setuju mana? Jawab di kolom komentar ya!

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi klik di sini.