Menu

YKAN Gaungkan Konservasi Lewat Kontes Foto dan Video Suara Alam Nusantara

04 Desember 2025 19:08 WIB

Sumber: istimewa

HerStory, Jakarta —

Lebih dari dua ribu karya visual dari berbagai penjuru Indonesia memeriahkan Kontes Foto dan Video Suara Alam Nusantara yang digelar oleh organisasi nirlaba lingkungan, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Ajang tahunan ini menjadi ruang kreatif untuk mengajak masyarakat semakin peduli terhadap pelestarian alam dan keanekaragaman hayati Indonesia melalui medium foto dan video.

Pengumuman para pemenang dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia. Kompetisi ini melibatkan sejumlah figur ternama sebagai dewan juri, yakni fotografer profesional Marrysa Tunjung Sari, aktor sekaligus pegiat alam Ramon Tungka, serta musisi Monita Tahalea.

Selain itu, fotografer senior alam liar Riza Marlon turut hadir sebagai kurator khusus yang menilai karya berdasarkan keaslian, kekuatan pesan, serta kedalaman visual.

Dalam sambutannya pada Konferensi Pers Melestarikan Alam Lewat Kampanye Kreatif Kontes Foto dan Video Suara Alam Nusantara yang digelar di Creative Space Gramedia Jalma, Jakarta, Kamis (4/12/2025), Anggota Dewan Pengawas YKAN, Jemmy Chayadi, menegaskan bahwa tantangan konservasi ke depan akan semakin besar. Namun, perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

“Tantangan kita memang semakin besar, tapi setiap langkah kecil yang kita lakukan itu bisa menjadi langkah besar pada akhirnya,” tegas Jemmy.

Ia menilai kontes foto dan video ini sebagai salah satu bentuk langkah kecil yang kreatif namun berdampak luas. Hingga penutupan, sekitar 3.000 karya foto dari berbagai daerah di Indonesia berhasil dihimpun.

“Ada yang karya-karyanya bagus banget, saya sangat terpukau. Ada yang lucu, ada juga yang terasa agak horor. Tapi itulah alam, ia mengekspresikan banyak hal,” kata Jemmy.

Menurutnya, proses penjurian bukanlah hal mudah. Setiap karya dinilai tidak hanya dari sisi estetika dan etika, tetapi juga dari pesan konservasi yang dibawanya.

“Menjadi pemenang bukan sekadar soal gelar juara, tapi merupakan pengakuan atas kontribusi nyata dalam menginspirasi masyarakat untuk mencintai alam. Pesan konservasinya harus benar-benar sampai,” jelasnya.

Menilai Keindahan dengan Tanggung Jawab Konservasi

Sebagai juri, fotografer profesional Marrysa Tunjung Sari menekankan bahwa kontes ini tidak hanya menampilkan keindahan visual alam Indonesia, tetapi juga membawa pesan urgensi perlindungan lingkungan bagi keberlangsungan generasi mendatang.

“Foto-foto yang masuk luar biasa. Kami banyak berdiskusi dan berdebatan untuk menentukan pemenangnya. Karena dalam penilaian, kami sebagai juri tidak hanya melihat visual tapi juga menilai apakah foto tersebut mampu menyuarakan alam dan biodiversitas,” papar Marrysa.

Sejak awal, seluruh juri sepakat untuk tidak “terjebak” pada keindahan visual semata. Menurut Marrysa, estetika memang penting dalam fotografi, namun substansi dan keterkaitan dengan misi konservasi menjadi faktor utama.

“Sebagai fotografer, mata kita memang harus dilatih untuk melihat yang estetik. Tapi pada saat penjurian, kami kembali lagi pada brief. Poin utama dari kontes ini adalah konservasi, jadi tampilannya harus menunjukkan arah ke konservasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa banyak karya yang secara visual sangat memanjakan mata, namun bisa menjadi jebakan jika tidak dibarengi dengan narasi dan upaya nyata.

“Estetik itu kadang menjebak. Kita bisa terbius oleh bokeh, oleh warna. Tetapi pada akhirnya kami diingatkan kembali bahwa yang dinilai juga adalah effort di balik foto itu,” ungkapnya.

Foto sebagai Seremoni dan Pesan Keberpihakan pada Alam

Aktor sekaligus pegiat alam, Ramon Tungka, menambahkan bahwa setiap kontes foto selalu membawa pesan utama yang ingin disampaikan. Dalam Suara Alam Nusantara, pesan itu adalah keberpihakan pada alam.

“Foto itu kan visual, tapi di balik setiap bingkai pasti ada pesan. Di kontes ini, yang ingin ditunjukkan adalah komitmen untuk menyuarakan agar kita lebih berpihak pada alam,” katanya.

Dalam proses kurasi, para juri aktif berdiskusi dan mempertanyakan tidak hanya keindahan visual, tetapi juga kekuatan pesan konservasi di baliknya. Ramon sendiri melihat karya dari sudut pandang penikmat.

“Setiap juri punya perspektif berbeda. Kalau saya, melihatnya dari sisi end user, dari si penikmat. Karena bagi saya, setiap foto itu adalah sebuah seremoni,” tuturnya.

Bagi Ramon, satu foto adalah satu peristiwa yang mampu menghadirkan rasa dan dampak.

“Satu foto, satu bingkai, bagi saya itu sebuah seremoni. Foto itu menimbulkan rasa. Lalu kita bertanya, dampak apa yang ditinggalkan foto itu bagi kita? Dari situ rasa menjadi bekal dalam menilai,” ungkapnya.

“Ketika sebuah momen berhasil ditangkap, foto itu membawa pesan apa? Apakah membuat kita berpikir ulang, mengevaluasi, atau bahkan memantik kita untuk berbuat lebih baik bagi lingkungan,” tambah Ramon.

Visual, Rasa, dan Tanggung Jawab Manusia terhadap Alam

Tema Suara Alam Nusantara sendiri diambil dari album musik suara yang dirilis YKAN dan tersedia di berbagai platform digital seperti Spotify. Album tersebut berisi sepuluh suara dari wilayah-wilayah program konservasi YKAN.

Musisi sekaligus juri, Monita Tahalea, menilai bahwa lomba fotografi konservasi memiliki dimensi makna yang jauh melampaui keindahan semata.

“Ini bukan cuma tentang gambar yang indah atau pemandangan yang bagus saja. Tapi apakah gambar itu ditangkap dengan rasa menyayangi apa yang ada di depannya,” jelas Monita.

Pengalaman menjadi juri membuatnya semakin peka terhadap jejak yang ditinggalkan manusia terhadap alam.

“Proses ini bikin saya jadi lebih peka dengan apa yang saya tinggalkan, bukan cuma apa yang saya ambil untuk kepentingan saya berkarya, tapi juga sebagai manusia yang patut menjaga alam,” ucapnya.

Sebagai musisi, Monita juga merasakan ikatan yang unik antara visual dan bunyi alam.

“Saat kita melihat sebuah visual, biasanya muncul perasaan tertentu. Karena aku seorang musisi, setiap kali melihat gambar hutan atau pohon, aku langsung membayangkan seperti apa bunyinya, seolah ada lagu yang cocok untuk suasana itu,” tambahnya.

Delapan Kategori Foto dan Tiga Kategori Video

Dalam kontes ini, terpilih delapan pemenang untuk kategori foto yang meliputi Lanskap Laut (termasuk bawah laut), Makhluk Laut, Lanskap Drone, Lanskap Non-Drone, Tumbuhan dan Jamur Liar, Satwa Liar, Burung, serta Masyarakat Adat Indonesia.

Sementara untuk kategori video, terdapat dua pemenang untuk kategori Lanskap dan Potret, serta satu pemenang untuk kategori Favorit TikTok.

Direktur Komunikasi YKAN, Priscilla Christin, menyampaikan bahwa karya-karya yang masuk tidak hanya menampilkan keindahan alam, tetapi juga menyuarakan pentingnya perlindungan kekayaan hayati Indonesia.

“Ada banyak foto yang menggugah, menimbulkan rasa bangga, memperlihatkan betapa kaya alam dan budaya Indonesia. Namun di sisi lain, dalam kenyataan kita masih menemui praktik-praktik yang membawa risiko pada kerusakan alam itu sendiri,” terangnya.

Melalui kontes ini, Priscilla berharap masyarakat semakin sadar akan kekayaan alam Indonesia dan terinspirasi untuk menjaganya bersama.

“Setiap foto dan video adalah ajakan untuk bertindak, agar generasi mendatang tetap dapat menikmati kekayaan hayati Indonesia. Karena pada akhirnya, menjaga alam berarti menjaga kehidupan kita kini dan di masa depan,” pungkasnya.

Artikel Pilihan