Amartha (Istimewa)
Di tengah kondisi pasar yang dinamis, investor tidak lagi hanya mengejar potensi keuntungan jangka pendek atau cuan yang cepat melainkan mempertimbangkan profil risiko, transparansi pengelolaan dana, hingga keterkaitan investasi dengan sektor riil termasuk pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Certified Financial Planner (CFP) Lolita Setyawati mengatakan perubahan preferensi tersebut terlihat dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya literasi keuangan masyarakat dan semakin beragamnya pilihan instrumen investasi.
"Jika sebelumnya banyak investor fokus mencari produk investasi yang 'cepat cuan', kini semakin banyak yang mulai mempertimbangkan kesesuaian dengan profil risiko, tujuan keuangan, serta transparansi pengelolaan investasi," ujar Lolita dalam keterangan resmi, Jumat (17/7/2026).
Ia menilai, investor kini mulai memperhatikan ke mana dana investasi ditempatkan. Selain potensi imbal hasil, ada pula investor yang memastikan apakah dana yang mereka tanamkan mendukung ekonomi produktif.
"Bagi mereka yang kebutuhan keuangan dasarnya sudah terpenuhi, mulai muncul keinginan untuk memahami ke mana dana investasi ditempatkan dan dikelola, serta nilai tambah apa yang dapat dihasilkan. Investasi yang terhubung dengan pembiayaan produktif UMKM dapat menjadi pilihan selama investor tetap memahami legalitas, mekanisme, risiko, dan potensi imbal hasilnya," kata Lolita.
Adanya perubahan tren tersebut alhasil mendorong berbagai alternatif yang terhubung dengan sektor riil, salah satunya adalah pembiayaan produktif UMKM yang dinilai dapat menjadi instrumen diversifikasi portofolio di luar aset konvensional.
Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie mengatakan investasi yang disalurkan ke sektor produktif tidak hanya memberikan peluang imbal hasil, tetapi juga memperluas dampak ekonomi.
"Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, masyarakat perlu semakin cermat memilih produk investasi. Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga investasi yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif," ujarnya.
Tercatat, selama lebih dari 16 tahun, Amartha telah menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp47 triliun kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.
Tahun 2025, 90.000 lapangan kerja baru terebentuk melalui pelaku UMKM dan 86% diantaranya adalah perempuan.
Ke depan, kata Julie, pembiayaan produktif UMKM juga dapat menjadi pilihan investasi jangka menengah hingga panjang karena mengikuti kebutuhan siklus usaha pelaku UMKM.
"Ketika modal disalurkan ke UMKM, dampaknya dapat meluas secara ekonomi. Melalui pembiayaan produktif, UMKM dapat memperoleh akses modal untuk mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, hingga membuka lapangan pekerjaan," tutup Julie.