Menu

Lianto Wongso dan Solomon, Kisah Ayah-Anak Meneruskan Warisan Tailoring

12 Agustus 2026 23:52 WIB

(istimewa)

HerStory, Jakarta —

Beauty, warisan keluarga Wong Hang Tailor memasuki babak baru ketika Lianto Wongso bersama putranya, Solomon Stevano Putra Wongso, tampil dalam The Midsummer Dream Wedding Trunk Show by the Proposal pada 8 Agustus 2026 di The Ritz-Carlton Jakarta, Mega Kuningan. Kehadiran Solomon, generasi keempat Wong Hang, menjadi momentum untuk mempertemukan tradisi bespoke tailoring Indonesia dengan pengalaman internasional yang ia dapatkan di London.

Bagi Lianto, keterlibatan sang putra dalam acara tersebut bukan sekadar penampilan di sebuah agenda fashion dan pernikahan. 

Ia melihatnya sebagai kesempatan bagi Solomon untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mulai membangun identitasnya sendiri di dunia tailoring.

“Bagi saya, event ini bukan sekadar sebuah fashion show, tetapi sebuah momentum penting bagi Solomon untuk menunjukkan bahwa seorang tailor Indonesia juga mampu membawa standar craftsmanship ke level internasional. Saya sebagai ayah sekaligus seorang Master Tailor melihat ini sebagai sebuah kebanggaan, tetapi juga sebagai awal dari perjalanan yang jauh lebih besar,” ungkap Lianto Wongso, Selasa (12/8/2026).

Solomon merupakan generasi keempat keluarga Wong Hang Tailor yang telah berakar sejak 1933. Ia memulai karier profesional setelah menyelesaikan pendidikan desainer di Savile Row Academy, London. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk memahami standar dan disiplin tailoring internasional sebelum mengembangkannya dengan karakter serta pemahaman terhadap pasar Indonesia.

Namun, bagi Lianto, perjalanan Solomon tidak berhenti pada status sebagai penerus keluarga. Tantangan terbesarnya justru membangun nama dengan karya sendiri.

“Solomon menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia harus membuktikan dirinya bukan hanya sebagai anak dari seorang tailor yang sudah memiliki pengalaman dan nama, tetapi sebagai seorang designer dan tailor dengan karakter serta identitasnya sendiri. Karena itu saya selalu mengingatkan dia, jangan hanya mengejar nama besar—bangun karya yang membuat orang mengingat siapa Solomon.”

Lianto menilai pendidikan Solomon di London menjadi fondasi penting, tetapi pengalaman tersebut tetap harus diterjemahkan sesuai karakter Indonesia.

“Pengalaman belajarnya di Savile Row, London, menjadi fondasi penting. Tetapi ilmu dari London harus diterjemahkan dengan kreativitas, karakter, dan pemahaman terhadap pasar Indonesia. Tantangan terbesarnya justru bagaimana mempertahankan standar craftsmanship yang tinggi sekaligus menciptakan sesuatu yang relevan dan memiliki identitas sendiri,” terang Lianto Wongso.

Selama ini, Wong Hang Tailor telah dipercaya berbagai kalangan penting di Indonesia, termasuk keluarga Istana Presiden dan tokoh-tokoh kenegaraan. Reputasi tersebut dibangun melalui konsistensi, ketelitian, craftsmanship, serta hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

Di tengah proses regenerasi tersebut, Lianto juga mengingatkan bahwa perjalanan Solomon baru dimulai.

“Sebagai orang tua, tentu saya bangga. Tetapi saya juga tidak ingin terlalu cepat mengatakan bahwa dia sudah berhasil. Justru sekarang tantangannya dimulai,” tegasnya.

Keterlibatan Solomon dalam The Midsummer Dream Wedding menjadi salah satu pembuktian profesionalnya. “Event sebesar ini harus menjadi pembuktian bahwa apa yang dia pelajari dan kerjakan selama ini bisa menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai dan tempat di industri fashion,” kata Lianto Wongso.

Ia berharap generasi berikutnya tidak hanya membawa nama Wong Hang, tetapi juga memperluas jejak tailoring Indonesia.

“Saya tidak ingin Solomon dikenal hanya karena dia anak saya. Saya ingin suatu hari orang mengenal namanya karena karya dan craftsmanship-nya sendiri,” tutup Lianto Wongso.

Share Artikel:

Oleh: Azka Elfriza

Artikel Pilihan