Menu

AI Mengubah Dunia Kerja, Ini Skill yang Perlu Dikuasai Anak Moms!

24 Agustus 2026 23:15 WIB

Anak belajar (istimewa)

HerStory, Jakarta —

Moms, menyiapkan anak menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan mengejar prestasi akademik lho. Kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, memahami teknologi, dan terus mempelajari keterampilan baru juga menjadi bekal penting untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah.

Perubahan tersebut semakin relevan karena anak-anak yang saat ini masih duduk di bangku sekolah diproyeksikan memasuki dunia kerja dalam 19 tahun ke depan. Mereka nantinya dapat berperan sebagai ilmuwan, pengusaha, profesional, insinyur, hingga pemimpin.

Berdasarkan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, perubahan struktural diperkirakan memengaruhi 22 persen pekerjaan hingga 2030. Sebanyak 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta, sementara 92 juta pekerjaan berpotensi tergeser. Pada periode yang sama, 39 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan ikut berubah.

Profesi yang tumbuh cepat antara lain berada di bidang teknologi, industri hijau, serta layanan kesehatan dan sosial. Sebaliknya, pekerjaan rutin dan administratif diperkirakan berkurang seiring berkembangnya kecerdasan buatan dan otomatisasi.

Kondisi tersebut membuat pendidikan perlu membekali siswa dengan kemampuan yang lebih luas. Kepala ACG School Jakarta Myles D’Airelle mengatakan, sekolah tidak berhenti pada persiapan ujian atau perguruan tinggi.

“Siswa pergi ke sekolah untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tugas kami sebagai pendidik juga untuk memastikan mereka mampu berpikir mandiri, berani mempertanyakan gagasan, mencari solusi, dan memahami tanggung jawab di balik setiap keputusan. Kemampuan inilah yang akan mereka bawa dalam menentukan masa depan mereka dan berkontribusi kepada masyarakat,” ujar Myles.

Keunggulan Akademik dan Kemampuan Menghadapi Perubahan

ACG School Jakarta menerapkan International Baccalaureate Primary Years Programme (IB PYP), International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP), dan kualifikasi Cambridge International. Metode pembelajarannya tidak hanya berfokus pada pemahaman materi, tetapi juga mendorong siswa mengembangkan cara berpikir, mengelola proses belajar, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata.

Lingkungan sekolah yang multikultural juga membantu siswa berkomunikasi, berkolaborasi, memahami perspektif berbeda, serta beradaptasi dalam lingkungan global.

Pendekatan tersebut tercermin dari pencapaian dua lulusan ACG School Jakarta. Zavier meraih 42 poin dan Devansh memperoleh 43 poin dalam IBDP, dari nilai maksimal 45. Berdasarkan data global IB sesi Mei 2025, rata-rata nilai Diploma Programme mencapai 30,58 dari 202.103 siswa, sementara hanya 4,68 persen yang memperoleh nilai 40 atau lebih.

“ACG School berhasil menjaga konsistensi passing grade yang kuat dari tahun ke tahun, dan kami sangat bangga terhadap pencapaian Zavier dan Devansh tahun ini, keduanya meraih hasil exceptional. Hasil mereka tidak hanya mencerminkan kemampuan akademik yang kuat, tetapi juga rasa ingin tahu, ketahanan, tekad, pemikiran kritis, dan kepedulian yang mereka tunjukkan sepanjang perjalanan IB. Saya percaya pengalaman tersebut akan membantu mereka memimpin, berkontribusi, dan berhasil di masa depan,” kata Myles.

Dua Lulusan, Dua Pilihan untuk Masa Depan

Setelah lulus, Zavier memilih Teknik Kimia di Universitas Indonesia, sementara Devansh melanjutkan studi Teknik Dirgantara di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Keduanya memilih bidang berbeda, tetapi membawa bekal pengetahuan, kemandirian, dan kepercayaan diri dari lingkungan sekolah.

Pembelajaran yang Membentuk Kepemimpinan

IBDP mendorong siswa memiliki rasa ingin tahu, berpikir kritis, berpengetahuan luas, serta bertanggung jawab terhadap proses belajarnya. Pengembangan kemampuan tersebut berlangsung melalui pembelajaran di dalam dan luar kelas, termasuk 32 kegiatan ekstrakurikuler, acara komunitas, dan peluang beasiswa.

“IB menantang siswa untuk berpikir kritis, mengajukan pertanyaan berdasarkan rasa ingin tahu, merefleksikannya, dan menganalisis jawaban. Proses ini membantu siswa menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu memecahkan masalah, baik untuk pendidikan selanjutnya maupun dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Koordinator Diploma IB ACG School Jakarta Kieran Pascoe.

Pendampingan personal juga dilakukan untuk membantu siswa menentukan pilihan mata pelajaran dan strategi pendaftaran universitas berdasarkan kekuatan, minat, serta aspirasi masing-masing.

Artikel Pilihan