Aktris cantik Nana Mirdad angkat suara perihal berita yang menghebohkan Bali akhir-akhir ini. Seperti yang Beauty ketahui, kalau kini tengah senter berita dua orang karantina Corona yang melarikan diri alias kabur di Bali. Lewat Instagram Story miliknya, kakak Naysila Mirdad ini menceritakan kronologi pasien Corona yang disebut-sebut melarikan diri saat dikarantina.

"Saya mau memberi kronologi tentang 'bapak dan anak yang kabur dari karantina' yang sedang heboh di Bali saat ini. Miris melihat pemberitaan media yang bilang bahwa mereka adalah pasien yang kabur," tulis Nana Mirdad dalam Instagram Story miliknya yang juga di-repost oleh akun @lambe-turah, Kamis (26/3/2020).

Baca Juga: Happy Salma Ceritakan Saat Dirinya Alami Batuk Parah Hingga Sesak Napas Seperti Gejala Virus Corona

Nana membenarkan kalau keduanya kabur dari karantina. Namun, yang mengejutkan ialah ia mengatakan kalau kedua orang tersebut bukanlah pasien Corona. 

"Apakah mereka kabur? Iya. Tapi apakah mereka pasien? Sama sekali bukan," lanjutnya.

Nana Mirdad mengetahui hal ini, lantaran kedua orang tersebut merupakan teman dekat ia dan suami, Andrew White.

"Darimana saya tahu kronologis ini? Karena T*ny sekeluarga adalah teman dekat saya dan Andrew. Saya sangat prihatin melihat mereka dilaporkan seperti ini dan diberitahukan seakan2 mereka pasien yang melarikan diri dan pantas diasingkan masyarakat. Come on guys, kita memang sedang mengahadapi pandemik. Tapi apa kita mau memperlakukan manusia seperti ini??," katanya. 

Begini kronologi yang Nana ceritakan, 

Kala itu, kedua anak T*ny baru saja pulang dari United Kingdom (UK), sebut saja I dan E. Sesampainya di bandara, kedua putrinya harus melakukan pemeriksaan terlebih dulu bersama 40 penumpang lain yang berada di Qatar Airways.

Baca Juga: Positif Corona, Begini Kronologi Bupati Karawang Cellica Sesak Napas Saat Pidato

Saat melakukan pemeriksaan, temperatur kedua putrinya itu terbilang normal. Tapi entah kenapa, I dengan temperatur 36,3 derajat celcius justru tertahan dan diamankan ke ruang imigrasi dan melakukan rapid test. Sedangkan sang kakak, E, diizinkan untuk pulang.

"Imigrasi mengatakan kalau I*is harus menjalani tes rapid meskipun tidak ada symptom apa2. Namun mereka ngga punya alat test itu jadi mereka akan menahan I*sis di karantina sampai test itu didapat. T*ny pun ikut ke tempat karantina karena ia ngga mungkin meninggalkan anak perempuannya yang masih remaja sendiri. Sampai tempat karantina mereka bilang kalau alat test itu baru akan tersedia setelah Nyepi," tambahnya.

Setelah menunggu lama tanpa APD, sang ayah pun membawa putrinya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia langsung memanggil dokter untuk memberikan health certificate untuk menyatakan kalau sang putri dalam keadaan sehat. 

Namun, malang nian nasib teman dari Nana ini. Saat malam hari, rumahnya dikepung lebih dari 100 orang. Mereka memaksa kepada T*ny dan anaknya untuk kembali ke karantina dan melewati Hari Nyepi di sana.

Bagaikan buronan, data pribadi T*ny dan anaknya termasuk nomor teleponnya pun tersebar luas. Banyak pihak yang mengancam keselamatan T*ny dan keluarga untuk sesuatu yang sebenarnya enggak pantas mereka terima.

"Coba kita sama2 lihat lagi ketentuan pemerintah untuk karantina bagi warga asing... Jika mereka sakit maka petugas berhak menahan. Tapi jika mereka sehat? Pemerintah strongly advise SELF QUARANTINE," tegas Nana.

Baca Juga: Video Curhatannya Sakit Corona Viral, Wanita Ini Malah Kena Bully

Nana mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih bijak lagi dalam menggunakan sosial media. Hal ini dikarenakan agar enggak termakan isu yang belum jelas kebenarannya. Teguran ini pun berlaku untuk media yang turut memberitakan, ada baiknya mencari tahu lebih dulu agar masyarakat enggak keliru dengan berita yang disajikan.

"Cari tahu bagaimana standar prosedur karantina warga asing yg sebenarnya dan coba tanyakan diri kita masing2 apa benar mereka pantas diperlakukan begini? Dan untuk liputan2 berita online, tolong cari tahu dulu kebenaran berita sebelum di publish agar rakyat ngga di ombang ambing dengan berita yang belum di klarifikasi dan akhirnya banyak pihak yang dirugikan," jelasnya.

Nana Mirdad menegaskan kalau kedua orang tersebut adalah Warga Negara Indonesia. Di akhir tulisan panjangnya, Nana kembali menegaskan untuk lebih memahami soal prosedur karantina agar enggak salah sasaran. 

"So mari kita pikirkan bersama-sama lagi siapa yang wajib ada di karantina dan siapa yang tidak. Dan bagaimana kondisi dan kesiapan karantina di Indonesia saat ini. Tujuan kita sama-sama ingin pandemik ini berakhir dan sebisa mungkin tetap menghargai dan memperlakukan orang-orang sesuai dengan haknya masing-masing. Jangan sampai kita jadi kehilangan akal sehat karena pandemik ini okay guys," pungkasnya. 

Ada jutaan anak yang terkendala belajar online karena keterbatasan akses internet. Ada banyak tenaga medis yang tidak dibekali APD lengkap. Mari kita sama-sama sukseskan kampanye #AmanDiRumah untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Donasi Anda akan disalurkan untuk membantu pengadaan APD dan fasilitas pendidikan online anak-anak Indonesia. Informasi soal donasi klik di sini.