Menu

Jangan Remehkan Gangguan Kesehatan Jiwa! Yuk Kenali Jenis dan Faktor Pemicunya

24 September 2021 12:05 WIB
Jangan Remehkan Gangguan Kesehatan Jiwa! Yuk Kenali Jenis dan Faktor Pemicunya

Ilustrasi seorang wanita yang sedang mengalami depresi/gangguan jiwa.(Unsplash/Edited by HerStory)

“Kalau psikosis itu biasanya gangguan jiwanya sudah mempunyai reality testing ability atau gangguan dalam menilai realita. Misalnya pada pasien dengan gangguan psikotik berat seperti schizophrenia. Nah, schizophrenia ini gejala khasnya misalnya halusinasi, merasa ada bisikan-bisikan di telinga, padahal sumbernya tidak ada. Jadi dia mengalami gangguan persepsi gitu.Sementara untuk Neurosis ini misalnya orang dengan gangguan jiwa tetapi masih bisa mempunyai penilaian realita yang baik. Misalnya adalah gangguan-gangguan seperti depresi, gangguan cemas, gangguan panik. Dan banyak sekali kalau mau apa saja diagnosisnya ya silakan melihat buku di DSM 5 atau PPDGJ 3. Tapi kalau buat saya, cukup 2 aja lah untuk jadi pembeda, yaitu Psikosis dan Neurosis,” jelas wanita kelahiran 27 November 1977 itu.

Lalu, apa saja sih yang dapat memengaruhi kesehatan jiwa seseorang itu?

Dikatakan Nova, terkhusus dia meneliti tentang bunuh diri, biasanya ia memakai model pendekatan Biopsikososial untuk mengetahui pemicu masalah gangguan jiwa. Dari pendekatan Biologis, misalnya, ia melihat apakah orang tersebut mempunyai masalah kelainan neurotransmiter seperti depresi dilihat dari serotonin transmiternya. Menurutnya, ada orang yang punya kecenderungan serotoninnya rendah.

Kedua, apakah ada faktor genetik atau keturunan. Tapi bukan berarti turunan akan mengalami masalah yang sama. Artinya, akan lebih berat saja penanganannya atau perjalanan penyakitnya. Nova pun memberikan contoh penulis terkenal Ernest Hemingway yang mati bunuh diri. Diketahui bahwa selama empat generasi keluarganya ada lima orang yang juga bunuh diri.

“Misalnya pada kasus bunuh diri. Secara biologis kita ingin melihat ada gak sih faktor genetik di keluarga. Contohnya yang menimpa Penulis, Ernest Hammingway. Ternyata dari 4 generasi itu sudah 5 orang anggota keluarganya yang bunuh diri. Kemudian kita juga melihat misalnya apakah penggunaan narkotika atau NAPZA ya. Pemakaian itu juga bisa berpengaruh terhadap perilaku dan juga sikap dari seseorang. Misalnya penyakit kanker gitu ya sudah gak kuat lagi pengen bunuh diri. Kemudian stressor terlalu tinggi misalnya pada masa pandemi sehingga akhirnya hormon stress seperti kortisol juga menjadi tinggi. Sehingga orang banyak mengalami misalnya gak bisa tidur tengah malem, nah kortisolnya harusnya sudah turun, hormonnya ini masih meningkat. Itu contoh-contih pemicu dilihat dari faktor biologis,” papar Nova.

Kemudian pendekatan Psikologis bisa dilihat dari pola asuh, lingkungan, dan sebagainya. Ini akan memengaruhi ciri kepribadian seseorang menghadapi masalah.

“Sedangkan pendekatan psikologis, biasanya kita lihat dulu apakah orang itu mengalami gangguan jiwa atau tidak, itu dilihat dari mekanisme koping, yakni mekanisma cara seseorang menghadapi masalah dalam hidupnya. Terus tempramennya seperti apa. Kemudian mekanisme defense-nya, cara dia mempertahankan diri kalau yang mature itu biasanya humor. Jadi dia bisa melihat sesuatu pada dirinya sebenarnya tuh tidak baik tapi dia melihat kekurangannya itu sebagai sesuatu yang lucu aja. Jadi humor itu mekanisme defense yang mengatur,” terangnya.

Halaman: