Menu

Lelap Meski Tidur Sebentar? Bisa Jadi Itu Tanda SSS Beauty, Begini Penjelasan Dokter

04 November 2021 11:20 WIB
Lelap Meski Tidur Sebentar? Bisa Jadi Itu Tanda SSS Beauty, Begini Penjelasan Dokter

Ilustrasi wanita sedang tertidur pulas. (Freepik/gpoinstudio)

Kata dr. Wardah, seorang pengidap SSS dengan mudah mencapai stadium III meski jam tidurnya pendek. Umumnya, setiap orang perlu waktu 50-60 menit untuk mencapai stadium III.

“Dia gak merasa capek karena ya memang jam tidurnya hanya sebanyak itu,” tegasnya.

dr. Wardah lantas mengatakan, ada dua penyebab seseorang mengalami SSS.

Pertama, yakni genetik. Bisa berkaitan keturunan (herediter) atau mutasi genetik. Misalnya, karena trauma lahir, polusi, terpapar radiasi waktu kecil, dan penyebab lain. Dan kedua, karena gaya hidup atau rutinitas.

Lebih lanjut, dr. Wardah menegaskan, SSS bukan gangguan tidur karena penderita gak merasakan ada dampak negatif. Berbeda dengan orang yang memang tidur pendek dengan kualitas tidurnya rendah. Kondisi begini dipicu hal-hal yang membuat orang tersebut mudah terjaga. Misalnya, pengidap diabetes yang harus sering bangun tidur karena kebelet pipis.

dr. Wardah lalu mencontohkan kasus yang dialami seorang pasiennya, sebut saja namanya Adi. Sejak kecil, Adi dibiasakan tidur pada pukul 21.00. Dia kerap terbangun pada pukul 02.00. Awalnya, dia menduga itulah gejala insomnia. Namun setelah ditanya, Adi menyatakan bahwa tak ada masalah dan dirinya tetap merasa fresh saat bangun.

“Kuncinya, apakah terasa fresh saat bangun? Kalau iya, dia sangat mungkin SSS,'' paparnya.

Dikatakannya, SSS bisa mengganggu jika lingkungan sekitar tak mendukung. Misalnya dalam kasus Adi. Dia merasa aneh karena harus bangun saat orang-orang di rumahnya masih terlelap. Mencoba tidur lagi pun tak bisa. Karenanya, ia pun mengatasinya dengan terapi kognitif behavioral.

''Kalau mau bangun jam 5 seperti orang lain, bisa diatasi dengan tidur lebih malam. Misalnya, jam 11 malam (23.00),'' tuturnya.

dr. Wardah sangat tak menyarankan seseorang untuk mengonsumsi obat tidur jika ada masalahj tidur. Sebab, obat tidur hanya akan membuat mengantuk, tetapi belum tentu membuat seseorang masuk fase tidur dalam.

“Padahal, yang kita butuhkan adalah kualitas tidur,” ujarnya.

dr. Wardah melanjutkan, selain SSS, ada pula long sleeper syndrome (LSS). Bila dibandingkan dengan SSS, menurut Wardah, lebih banyak orang dengan LSS. Pengidapnya butuh waktu tidur 10-12 jam.

“Sama dengan SSS, ini gak termasuk gangguan karena mereka merasa segar setelah bangun tidur selama itu,” tuntasnya.

Semoga informasinya bermanfaat ya!

Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.

Halaman:

Share Artikel:

Lihat Sumber Artikel di JPNN.com

Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan JPNN.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.

Oleh: Riana Agustian

Artikel Pilihan