Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dari RS Siloam Kebon Jeruk Jakarta. dr. Henry Suhendra, Sp.OT. (Dok. Pribadi/Edited By HerStory)
“Diagnosa osteoporosis itu gak bisa begitu saja. Karena gejalanya sendiri gak khas. Misalnya, kita tahu ada gradasi, pertama yang terjadi osteopenia dulu. Makanya kan dibilangnya silent desease itu osteoporosis. Banyak ibu-ibu yang sudah berumur itu tahu dia osteoporosis waktu udah patah. Makanya kita bilang, wanita menopause periksalah Bone Mineral Densitometry (BMD)-nya. Tapi biasalah, kita ngomong sampai busa-busa juga orang gak bakalan dateng kok. Kalau dia sudah sakit tulangnya, itu sudah berat, BMD-nya misalnya sudah minus 2,5, kalau di kurva itu gambarnya udah merah. Itu pasti udah ada gejala, bahayanya di situ. Jadi lebih baik mencegah ya daripada mengobati. Kalau bisa, pas kurva (BMD)-nya kuning, ya langsung obatin,” tegas dr. Henry.
Kemudian, dr. Henry pun memaparkan soal langkah pencegahan terhadap osteoporosis sekaligus menjaga tulang tetap kuat. Yakni, menjaga asupan nutrisi sehari-hari, mengonsumsi suplemen vitamin D, dan latihan fisik.
“Bukan cuma mengonsumsi suplemen vitamin D saja, tapi menjaga nutrisi dan latihan fisik juga penting. Karena untuk tulang yang baik kita gak cukup perlu vitamin D, kita perlu protein yang cukup, karena bahan dasar sel kita kan protein. Kemudian vitamin D juga. Dan saya kan punya approach yang berbeda, kalsium itu tidak saya berikan ke orang dewasa. Kalsium hanya diberikan ke anak-anak yang masih tumbuh. Dengan catatan dia mesti minum vitamin D. karena dengan vitamin D yang optimal, itu sudah menyerap kalsium dari makanan yang cukup. Jadi kalau vitamin D kita optimal, bisa dikatakan kalsium yang bisa kita serap dengan bantuan vitamin itu sudah 600-800 mg/hari, itu cukup. Karena kalau kita tambahkan lagi kalsium itu nanti kalsiumnya mengendap di pembuluh darah. Jadinya kalsium score tinggi di bagian jantung. Itu nanti menyebabkan penyempitan plak di pembuluh darah jantung, jadi malah bahaya, bukan untung,” papar dr. Henry.
Terkait latihan fisik, dikatakan dr. Henry, olahraga paling tepat untuk penderita osteoporosis adalah strength training atau latihan kekuatan otot. Ini merupakan jenis olahraga yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan dan massa otot, sendi, serta kebugaran tubuh. Selain itu, olahraga ini juga bisa membantu membakar kalori dan menurunkan berat badan.
“Memang pada dasarnya olahraga itu dibagi 2, aerobic dan an-aerobic. Aerobic itu nama lainnya cardio exercise, jadi untuk jantung, bakar lemak. Itu tergantung heart rate, jadi ada batasannya. Itu bisa lari, berenang, sepeda, bisa apapun lah. Tapi itu gak menyebabkan tulang padat, yang bisa menyebabkan tulang padat itu harus ada pressure. Jadi, olahraga yang cocok untuk penderita osteoporosis itu strength training , latihan kekuatan. Latihan beban juga bisa. Tapi gak harus selalu kita pakai beban (alat), kita bisa pakai beban berat badan kita kok. Jaid kalau mau latihan otot kaki, ya kita latihan squat, duduk di kursi, berdiri, begitu aja. Kalau upper body, ya push up. Bisa dilakukan tanpa alat-alat, dan tidak perlu sepertinya,” pungkas dr. Henry.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel: