Moms, di masa yang sulit ini ternyata ada banyak anak yang terpaksa berhenti sekolah, lho. Sekolah seperti bukan lagi prioritas utama mengingat keadaan sekolah daring juga nggak berpengaruh baik banget dengan anak-anak, apalagi yang punya sedikit akses untuk sekolah daring.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menuturkan bahwa banyak anak terpaksa mencari nafkah di masa pandemi virus korona (Covid-19) guna membantu keuangan keluarga. Dilansir dari beberapa sumber, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUD Dikdasmen) Kemendikbud, Jumeri, khawatir fenomena ini mengakibatkan banyak anak putus sekolah.

"Ada anak-anak yang selama masa pandemi ini mereka bekerja, mungkin jadi ART (asisten rumah tangga), kenek angkutan, bekerja di sawah, ternak, di laut  dan mereka terbiasa menerima uang, kita khawatir mereka tidak mau sekolah lagi," jelas Jumeri dalam Hari Aksara Internasional melalui siaran YouTube Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PMPK), Selasa, (8/09/2020).

Jumeri juga mengatakan ada kekhawatiran terhadap perubahan persepsi orang tua terhadap sekolah. Menurutnya, kemungkinan ada orang tua yang menganggap sekolah enggak punya peran penting selama anak belajar dari rumah.

"Tidak ada peran sekolah karena anak tidak masuk sekolah, tidak ada proses belajar mengajar di sekolah, akibatnya ada orang tua yang keberatan dengan iuran sekolah, minta dibebaskan, di diskon, dan sebagainya," jelasnya.

Selain itu, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) juga dinilai telah menciptakan kesenjangan capaian belajar. Hal ini karena terdapat perbedaan kemampuan siswa dalam mengakses teknologi, sebab perbedaan kemampuan ekonomi sosial. 

Ia menerangkan terdapat risiko learning lost, atau hilangnya kesempatan belajar yang maksimal. Jumeri menjelaskan bahwa hal ini merupakan dampak PJJ, yang memang enggak serupa belajar tatap muka di sekolah. 

Baca Juga: Stop! Kebiasaan Ini Enggak Boleh Dilakukan Orangtua

"Ini permasalahan, akhirnya pemerintah mengambil langkah relaksasi zona hijau dan kuning untuk masuk sekolah dalam rangka mengurangi resiko pandemi, dengan memperhatikan kesehatan peserta didik, guru dan keluarganya, kemudian juga memperhatikan tumbuh kembang anak," tuturnya.