Jus buah. (Freepik/detry)
Misalnya, antioksidan yang secara alami terikat pada serat tanaman hilang selama proses pembuatan jus. Hingga 90% serat hilang selama proses pembuatan jus, tetapi hal ini juga tergantung pada juicer. Beberapa serat larut akan tetap ada, tetapi sebagian besar serat Tak larut dihilangkan.
Asupan serat yang tinggi bisa membuat risiko penyakit jantung, obesitas, dan diabetes tipe 2 lebih rendah. Penelitian telah menunjukkan bahwa peningkatan serat larut, khususnya, dapat meningkatkan kadar gula dan kolesterol darah.
Satu studi membandingkan makan apel utuh dengan minum jus apel. Ditemukan bahwa minum jus apel meningkatkan kadar kolesterol LDL (buruk) sebesar 6,9%, dibandingkan dengan mengonsumsi apel utuh. Efek ini diduga karena kandungan serat apel utuh.
Terlebih lagi, sebuah penelitian observasional menunjukkan peningkatan risiko diabetes tipe 2 pada orang yang mengonsumsi jus buah, sedangkan buah utuh dikaitkan dengan pengurangan risiko.
Orang-orang juga cenderung merasa lebih kenyang ketika mereka makan buah-buahan utuh, dibandingkan dengan ketika mereka minum jus yang setara.
Satu studi membandingkan efek blending dan jus pada kandungan gizi grapefruit. Hasil penelitian menunjukkan, pencampuran (blending), yang mempertahankan lebih banyak serat, adalah teknik yang lebih baik untuk memperoleh manfaat dari senyawa tanaman.
Semoga bermanfaat, Moms.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel:
Lihat Sumber Artikel di The Asian Parent
Konten Sindikasi: Artikel ini merupakan kerja sama HerStory dengan The Asian Parent. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel yang tayang di website ini menjadi tanggung jawab HerStory.