Evelyn Yonathan, Chief People Officer (CPO) Lazada Indonesia. (Dok. Lazada Indonesia/Edited By HerStory)
“Dan terkait stigma, saya rasa sudah gak ada stigma. Kalau dibilang wanita Indonesia gak bisa berkerja di industri e-commerce atau teknologi which is aku rasa kita sudah mematahkan itu. Karena kebetulan demografiknya kita wanita lebih banyak daripada pria di employee kita. Jumlah manajer juga sama, wanitadi level manajerial lebih banyak dibanding pria manajerial di Lazada. Jadi aku rasa di situ udah menunjukkan bahwa kita nggak punya spesifik inisiatif untuk mendorong wanita, karena kita dari awal tidak melihat itu sebagai suatu masalah. Memang semuanya sama, jadi tidak perlu ada spesifik encouragement how to bring female to another level, kalau kebetulan wanita yang perform ya wanita itu yang naik, begitu juga sebaliknya,” sambung Evelyn.
Nah Beauty, bekerja di e-commerce terbesar di Asia Tenggara pun membuat Evelyn untuk ikut mendorong kesetaraan gender dalam lingkungan kerja. Bersama timnya, ia membuat policy agar karyawan Lazada punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri.
Salah satu kebijakan tersebut adalah tidaak adanya penyebutan level jabatan di lingkungan perusahaan. Evelyn ingin para karyawan Lazada bisa bekerja sama dengan siapa pun tanpa memedulikan titel yang melekat, sehingga tidak ada batasan untuk berkembang. Tak hanya itu, semua karyawan juga mendapatkan gaji yang sesuai dengan kinerjanya.
“Kita, di Lazada itu ada sistem yang mana jabatannya kita cabut. Jadi kita mau interaksi di level yang sama. Karena orang Indonesia itu punya kecenderungan hierarki, kalau manggil yang lebih tua harus manggil tante lah, om lah, bapak, ibu, kalau gak, gak hormat.Nah di Lazada itu sengaja kita cabut supaya semuanya itu rata dan sederajat. Ini bukan inisitif aku, kebetulan ini memang inisiatif yang diturunkan dari Alibaba-nya sendiri. And then kita sebagai Alibaba Group, kita harus meng-adopt ini dan kebetulan kita juga welcome. Bener juga kan. Buat apa kamu tahu aku levelnya apa, yang penting kan kamu butuh apa, dan apakah aku bisa menjawab pertanyaan aku kan. Seperti itu,” tegas Evelyn.
Selain menciptakan lingkungan kerja yang setara, Lazada juga turut berperan dalam memberdayakan wanita di seluruh ekosistemnya, baik itu karyawan, seller, hingga konsumen.
Evelyn memaparkan, Lazada Indonesia mempunyai berbagai program yang bisa mendukung pemberdayaan wanita. Seperti Lazada University dan Women's Club untuk menghadirkan sosok-sosok wanita inspiratif yang bisa menjadi role model. Sementara untuk konsumen, Lazada memiliki program Lazada Women Festival yang ditujukan untuk seluruh konsumen wanita di Lazada. Lewat program-program tersebut, kata Evelyn, Lazada berharap dapat secara konsisten memberikan dukungan serta apresiasi bagi banyak wanita hebat di Indonesia.
“Jadi intinya, Lazada itu mau stay di Indonesia lama lho, kita gak cuma urusan 10 tahun – 20 tahun gitu, kita maunya lama. In way we need to obligation how to give back to community Indonesia itu sendiri. Kalau kita maunya egosi, nyari bisnis aja, nyari untung saja gak peduli sama yang lain gitu ya, percayalah itu nggak bakalan tahan lama. Jadi buat kita, kita make sure untuk punya continuity yang lama, itu start from now how to educate all of them. That’s our dream, our vision and mission,” imbuh Evelyn.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.