Cicilia Nina Triana, Direktur AXA Financial Indonesia. (Dok. Pribadi/Edited By HerStory)
Nina mengatakan, selama ini orang seringkali menganggap bahwa training hanya melulu berhubungan dengan education. Ia pun beranggapan, dalam melakukan bahwa education ini harus ada muara akhirnya. Sehingga di AIA kala itu, ia mengawinkan antara bisnis itu sendiri dan akademi. Karena menurutnya, dalam membangun sebuah bisnis people development, growth it professionally and professionalism is very important dan very essensial.
“Nah berangkat dari situ saya mengawali karir di bidang asuransi itu dari bener-bener nol, ngajar sana, ngajar sini sampai kemudian mendapatkan cukup banyak followers. Dan saya seneng banget untuk membuat progress di dalam hidup saya dari yang asalnya megang training doang, kemudian dipercaya megang activating, karena di sales itu suka gini, kalau sales itu bagus capai target, orang gak akan pernah bilang itu karena training-nya. Yang ditepokin ya sales-nya. Tapi ketika sales itu jelek, orang selalu nunjuk ‘trainer-nya gimana sih’. So, pada saat itu saya berniat dengan apapun yang saya miliki, saya mencoba ‘menjual’ sebuah training ini bukan hanya sebagai ajang yang di-blame tetapi sebagai ajang yang memiliki kontribusi besar,” beber Nina.
Selang menggeluti dunia training, Nina pun akhirnya pindah ke bagian activating. Di situ ia membuktikan bahwa ilmu yang dipelajari dan diimplementasikannya mendapatkan rating rasio keberhasilan lebih tinggi daripada sekedar ‘jualan’ pakai feeling.
“Sehingga saya menekuni bidang aktivasi, mengubah suatu perusahaan tersebut dari yang tadinya MDRT (gelar tertinggi di bidang asuransi) itu tadinya hanya punya 27 sampai bertumbuh jadi 400-an MDRT, dan pada saat itu kebetulan di perusahaan saya sebelumnya mereka sangat fokus dengan MDRT dan menjadi part of contributor nomer satu MDRT di dunia. Dimana saya part of untuk MDRT di Indonesia. Saya terlibat voluntary tidak dibayar di luar pekerjaan saya di organisasi MDRT ini. Sampai kemudian setelah saya aktif di activation, saya kemudian pindah dalam dalam rekruitmen dan juga penjualan. Jadi mulai melakukan perekrutan dan di tahun 2014 saya bener-bener shift 100 persen ke sales di perusahaan yang lama dengan posisi Deputy GM,” terangnya.
Lebih lanjut, Nina pun mengaku, saat dirinya berada di posisi yang sedang lagi bagus-bagusnya, dan ia enjoy dengan hal itu, kemudian sekitar tahun 2018 ia pun mendapatkan tawaran dari AXA Financial Indonesia.
“Sebenarnya, sih kalau agak sedikit mundur, AXA Financial Indonesia ini sudah meminang saya beberapa kali. Tapi aku jawab ‘ntar dulu deh’. Beberapa kali ditawarin, tapi masih saya tolak. Nah baru di tahun 2018 itu, AXA Financial Indonesia datang lagi, tapi menawarkan sebuah posisi yang menarik menurut saya, yaitu sebagai Direktur. Tapi, saya tipikal orang yang gak mau diberikan posisi begitu aja. Saya ngukur diri sendiri dulu, ‘pantes gak saya jadi Direktur’. Dan saat itu saya mendapati, kayaknya perlu saya ambil nih offer opportunity ini. Karena saya melihat usia saya saat itu sudah 48 tahun, dan saya melihat posibilty-nya kalau saya terus di perusahaan yang lama, berapa lama kans saya masuk ke jenjang directorship, sementara saya di sini saya mendapatkan given, dari yang saya sudah earn. Dan tantangan itu saya dapet di tahun 2018, dan saya menyampaikan kepada orang yang memberikan challenge itu kepada saya, bahwa saya akan melakukan yang terbaik,” papar Nina.
“Kalau dibilang cepet untuk some people, saya perlu gratefull karena ini consider cepet. Karena saya liat teman-teman selevel saya yang punya kapasitas belajar seperti saya pun masih di level jauh, jadi di sisi lain saya perlu bersyukur,” sambung Nina.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel: