Cicilia Nina Triana, Direktur AXA Financial Indonesia. (Dok. Pribadi/Edited By HerStory)
Nah, selama mengemban tugas untuk memerhatikan kebutuhan pekerja di AXA Financial Indonesia ini, Nina mempunyai kiat-kiat tersendiri dalam memimpin. Ia pun memiliki gaya kepemimpinan yang ‘tak biasa’, yakni menganut gaya friendship leadership.
“Kalau ditanya gaya leadership yang aku anut, aku menerapkan friendship leadership. Selama ini mungkin leader itu adalah leader, orang yang memimpin dan team yaitu orang yang dipimpin. Jadi ada gap.Sementara buat aku sendiri, hal seperti itu buat aku nggak nyaman. Di dua sisi itu nggak nyaman. Orang yang kita pimpin nggak nyaman, kita yang memimpin juga nggak nyaman, untuk kitanya yang memimpin. Itu alasannya aku terapkan friendship leadership,” jelasnya.
Nina mengaku, dirinya ingin menjadi role model buat timnya sendiri, sekaligus ingin menjadi teman untuk timnya itu.
“Tapi disatu sisi aku juga pengen menjadi individu yang cukup profesional buat mereka. Banyak leader yang merasa takut ketika dia menganggap tim-nya teman, nanti timnya jadi ngelunjak, dia takut dia ga bisa dihormati. Saya sendiri gak mempersalahkan itu. Yang penting kita tahu porsinya masing-masing. Kita harus membangun perusahaan ini bersama-sama. Dan ketika kita bicara secara helicopter view, friendship leadership ini menurut saya akan memberikan value lebih, karena dia akan respect ke kita karena respect, bukan karena dia takut,” bebernya.
Kemudian, dengan pesatnya kemajuan teknologi dan tuntutan pasar, dunia asuransi pun kini menjadi sangat kompleks. Kata Nina, hal itupun mengharuskan dirinya untuk siap menghadapi berbagai macam tantangan. Lantas, bagi Nina sendiri, suka duka bekerja di dunia asuransi ini apa saja ya?
“Sebenarnya kalau bicara suka dukanya lebih banyak sukanya. Secara overall sukanya adalah bisnis asuransi itu adalah bisnis people. So buat saya, bertemu dengan people ini adalah sebuah pembelajaran, termasuk dengan bertemu dengan difficult people. Dan saya itu tipe orang yang sangat suka belajar, jadi nggak harus dari atasan, tapi bahkan dari tim saya, dari nasabah, saya lebih banyak belajar. Jadi saya merasa di bisnis asuransi ini makin hari saya makin penuh dengan value seperti itu. Dan itu yang membuat saya maunya pengen muda terus,” papar Nina.
“Kalau dukanya itu lebih kepada tadi karena orang belum mengerti secara benar apa itu asuransi. Karena asuransi itu adalah sesuatu yang sifatnya emosional, berhubungan dengan orang yang sakit, dll, sehingga orang-orang di posisi seperti itu emosionalnya terkadang tidak dalam kondisi stabil. Sehingga kalau dia marah, marahnya itu luar biasa. Nah ini kalau kita nggak punya kekuatan mental itu bisa akan menyerang mental health,” lanjut Nina.
Ketinggalan informasi bikin kamu insecure, Beauty. Yuk, ikuti artikel terbaru HerStory dengan klik tombol bintang di Google News.
Share Artikel: